BORNEONEWS, Sampit - Perombakan Gerbang Sahati di Jalan Tjilik Riwut depan Stadion 29 November Sampit, menuai beragam reaksi netizen atau warga dunia maya. Netizen mengkritisi dari penamaan, anggaran, hingga desain gerbang.
Seperti salah satu akun Facebook Werry Doank, dia merasa keberatan dengan desain yang dibuat. Menurutnya, desain tersebut tidak mewakilkan kebudayaan lokal.
"Saya tidak menolak renovasi gerbang. Tapi hanya menolak desainnya yang sama sekali tidak ada unsur budaya lokal daerah," katanya melalui status facebook-nya, Rabu, 1 September 2021.
Menurutnya dalam desain tersebut sangat minim identitas kebudayaan lokal. Hanya ada gambar belanga atau telawang yang menjadi simbol Pemerintahan Kabupaten Kotawaringin Timur.
Sejumlah netizen juga menyayangkan tidak adanya pelibatan tokoh masyarakat maupun budayawan setempat dalam perancangan gerbang yang jadi salah satu landmark kota ini.
Tak hanya itu, ada juga sejumlah netizen yang mengkritik soal penamaan. Menurut mereka, penamaan "Gerbang Sahati" masih sangat kental unsur politis sehingga tak mewakili keseluruhan masyarakat daerah itu.
"Harusnya tidak hanya rombak tapi juga ganti nama, yang lebih mencerminkan motto daerah," kata Fey warga lainnya.
--page
Demikian halnya juga dengan anggaran, sejumlah warga hingga legislator menyayangkan perombakan gerbang yang menelan dana kurang lebih Rp 700 juta itu. Apalagi masyarakat kini masih kesusahan dilanda pandemi.
Kendati demikian, ada juga warga yang mendukung terhadap perombakan gerbang. Pasalnya, kondisinya sudah dinilai membahayakan karena beberapa bagian sudah mengalami kerusakan. Sehingga perombakan merupakan tindakan yang tepat. (USAY NOR RAHMAD/B-11)









