PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Bencana banjir terus meluas di wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), bahkan salah satu tempat belajar yaitu SMP Alam Terpadu Pondok Pesantren Bina Insan di Kelurahan Sidorejo, Kecamatan Arut Selatan juga terdampak banjir.

Meski dikepung banjir sejak 4 hari silam, namun para siswa - siswi SMP Alam Terpadu Pondok Pesantren Bina Insan tetap semangat menimba ilmu. Bahkan untuk mencapai tempat belajar, mereka harus menggunakan sepatu bot untuk menerjang banjir yang cukup tinggi sampai lutut.

Terlihat tidak ada masalah bagi mereka yang harus belajar di tengah kepungan banjir, karena musibah tersebut bukan sekali dialami oleh sekolah alam ini, tapi sudah menjadi langganan setiap tahunnya.

Ketua Yayasan SMP Alam Terpadu Pondok Pesantren Bina Insan, Burhanuddin mengungkapkan, air yang menggenangi kawasan sekolah merupakan banjir kiriman baik dari luapan Sungai Lamandau maupun dari Sungai Arut, yang masuk ke aliran sungai kecil di Korindo dan Sungai Bamban.

"Proses belajar mengajar SMP ALAM Terpadu Pondok Pesantren Bina Insan tetap berjalan seperti biasa, karena memang sekolah alam dirancang untuk bersahabat dengan alam," katanya Selasa 7 September 2021.

--page

Diungkapkannya, jika banjir kali ini lebih besar dari tahun sebelumnya, sebab bukan hanya halaman yang tergenang air tetapi hingga masuk ke ruang kelas. Terpaksa mereka belajar dengan memanfaatkan ruang terbuka yang masih belum tergenang air.

Bahkan, beberapa fasilitas yang ada di sekolah alam tersebut mengalami kerusakan akibat banjir tahun sebelumnya dan belum diperbaiki, namun tahun ini kembali di terjang banjir.

"Kerusakan diantaranya beberapa WC dan kamar mandi sudah tidak bisa digunakan akibat terendamnya sapiteng, lantai beberapa ruang kelas mengalami penurunan dan rusak akibat terlalu lama terendam air, bahkan yang mengkhawatirkan pondasi gedung lantai 2 dan masjid di lantai 2 juga mengalami penurunan," ungkapnya.

Atas bencana banjir yang terjadi ini, ia berpesan kepada semua pihak agar menjaga kelestarian alam. Khususnya kepada pengambil kebijakan, agar lebih bijak dalam mengambil keputusan dan perhatikan dampak yang akan ditimbulkan, jangka pendek dan jangka panjangnya.

"Khususnya para pengusaha yang usahanya harus menggunduli hutan, mari berfikirlah secara bijak, befikir antara manfaat dan dampak madharatnya," pungkasnya. (DANANG/B-6)