BORNEONEWS, Muara Teweh - Tiang pancang jembatan yang menghubungkan Kelurahan Tumpung Laung - Desa Sikan Kecamatan Montallat Kabupaten Barito Utara yang ditabrak sebuah tongkang bermuatan ribuan ton batu bara di Sungai Barito mengalami kerusakan yang cukup serius.
"Hasil pengecekan sementara atas insiden yang terjadi pada Selasa 7 September 2021 malam sekitar pukul 20.00 WIB tersebut diperkirakan tiang pancang pada titik pier 3 (P3) mengalami kerusakan capai 75-80 persen," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Barito Utara, Muhammad Iman Topik, Jumat 10 September 2021.
Dalam pengecekan ini pihaknya bersama Dinas Perhubungan Barito Utara serta Kepala Bidang Bina Marga (BM) Dedy dan pejabat teknis PUPR.
“Kami masih melakukan investigasi atas sisa material yang ada, dan kawan-kawan dari Bidang Bina Marga terus melakukan pendalaman untuk melakukan perhitungan-perhitungan dan analisa atas beberapa kerusakan serta efek yang terjadi,” katanya.
Selain itu Dinas Perhubungan memberi dukungan serta suport melalui bidang sungai, terutama teman-teman dari Dinas Perhubungan lebih melihat kepada posisi letak tiang jembatan.
--page
“Secara prosedur dan aturan bahwa P3 berada pada posisi yang aman, dalam artian posisi yang tidak mengganggu zona lalu lintas pelayaran di arus sungai Barito atau di sekitar proyek pekerjaan,” katanya.
Lebih lanjut mantan Kepala Dinas Kominfosandi ini mengatakan, atas kerusakan yang terjadi Dinas PUPR Barito Utara sudah berkoordinasi dengan Polres Barito Utara melalui Polsek Montallat dan saat ini sedang meminta keterangan serta melakukan penyelidikan pendalaman terhadap insiden yang terjadi.
Kabid Bina Marga Dinas PUPR, Dedy menambahkan dari hasil pengecekan tadi bahwa tiang pancang di P3 itu sebanyak 22 tiang dan atas kejadian tersebut mengakibatkan tiang yang tenggelam sebanyak 8 tiang, kemudian tiang yang miring serta bergoyang ada 8 tiang.
Sedangkan tiang yang masih baik (tegak berdiri) hanya tersisa 6 tiang. "Untuk sementara tiang yang masih tersisa dalam kondisi baik ada enam tiang, sedang lainnya ada yang hilang dan rusak," ucanya.
Kabid Perhubungan Sungai dan Penyeberangan Dinas Perhubungan setempat Rizalfi menjelaskan tongkang bermuatan ribuan ton batu bara itu ditarik oleh kapal tunda (tugboat) TB Brahma 7 dan BG Anand 5, mengangkut batu bara milik PT Asmin Bara Bronang Kapuas melalui pelabuhan PT TOP Paring Lahung, Kabupaten Barito Utara.
--page
"Informasi dari petugas pandu di lokasi, Saniansyah pada saat kejadian cuaca cerah dan jarak aman untuk berlayar.Disamping itu pada rangkaian tiang pancang jembatan sudah dipasang penerangan (lampu sorot) dan rambu-rambu," katanya.
Pada saat kapal dengan jarak sekitar 1.500 meter dari posisi tiang pancang, petugas pandu sudah menginformasikan kepada kapten kapal bahwa agar kapal menarik tongkang ke arah kiri hilir (ke tengah sungai) karena posisi tongkang dekat dengan bangunan terapung (lanting) masyarakat.
Komunikasi antara pandu dengan kapten kapal terus berlangsung melalui radio, namun posisi kapal tidak kunjung ditarik sehingga tongkang terus terdorong arus yang kuat ke arah kanan turun, sehingga kejadian tertabraknya rangkaian tiang pancang jembatan tersebut tidak terhindarkan lagi.
Padahal saat kapal melintas dari jarak 1.000 meter dari arah hulu telah dipandu atau di assist oleh kapal bantu milik masyarakat setempat.
"Hasil pemantauan kami di lapangan arus sungai di lokasi tersebut memang sangat deras dan mengarah ke kanan turun tempat posisi rangkaian tiang pancang, namun alur pelayaran sangat lebar karena jarak tiang dengan tiang lainnya sekitar 200 meter dan juga jarak pandang cukup jauh kurang lebih 2.000 meter dari tikungan," tegasnya.
Selain itu letak dan posisi rangkain tiang pancang sudah berada di pinggir sungai dengan jarak sekitar 20 meter dari bibir sungai pada saat kejadian kondisi debit air naik (banjir) dan posisi tersebut hampir sejajar dengan bangunan terapung milik masyarakat.
Jembatan dengan panjang 697 meter lebar 8 meter ini pengerjaannya sedang digenjot. Pembangunan jembatan menggunakan sistem multiyears (tahun jamak) dengan nilai kontrak Rp 21,8 miliar dengan pengerjaannya dimulai sejak Januari 2020. (RAMADHANI/B-6)









