SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Sudah lebih dua pekan ini banjir melanda sejumlah desa di Kecamatan Kota Besi. Bahkan hingga saat ini banjir masih merendam 5 desa di kecamatan tersebut. 

Camat Kota Besi, Ninuk Muji Rahayu, mengatakan, banjir di Desa Hanjalipan menjadi salah satu desa yang terparah. Termasuk juga yang paling banyak kepala keluarga yang terdampak banjir. 

"Di Desa Hanjalipan itu satu kampung terendam banjir," sebutnya, Selasa, 14 September 2021. 

Banjir yang merendam Hanjalipan sudah terjadi selama dua pekan. Namun debit kondisi debit air saat ini belum menunjukkan penurunan. Sedikitnya 427  Kepala Keluarga (KK) di desa tersebut terdampak banjir. 

"Apalagi saat ini untuk di Desa Hanjalipan kondisi debit airnya masih cukup tinggi antara 1,5 - 2 meter," sebutnya. 

--page

Tingginya debit air di Desa Hanjalipan turut berdampak ke desa lain yang juga memiliki dataran rendah.  Di Desa Rasau Tumbuh ada 140 KK terdampak banjir,  Desa Simpur 91 KK, Suren 90 KK, dan Palangan 163 KK. 

"Di Desa Rasau Tumbuh sudah 10 hari terendam banjir. Desa lainnya ini biasanya akan terdampak lama, sama dengan yang terjadi di Desa Hanjalipan," terangnya. 

Untuk di Desa Rasau tumbuh dari 140  KK yang terdampak banjir ada 60 rumah yang kondisinya terbilang parah, karena air masuk hingga ke rumah warga. 

"Memang desa ini salah satu desa yang berada di pinggir Sungai Mentaya. Jadi kalau di wilayah Utara banjir, Desa Hanjalipan banjir maka desa-desa yang di bawahnya ini rata-rata ikut terdampak banjir juga," katanya. 

Sedangkan di Desa Rasau Tumbuh belum ada keluhan berat yang dirasakan masyarakat. Sebab kondisi banjir di desa itu mengalami pasang surut.

--page

"Jadi di saat surut masyarakat masih bisa beraktivitas, tapi kalau sudah pasang rata-rata rumah yang di pinggir sungai ini akan kemasukan air," tutupnya. (USAY NOR RAHMAD/B-5)