BORNEONEWS, Palangka Raya - Kondisi tercemarnya lingkungan dan ekosistem akibat banyaknya tumpukan sampah-sampah rumah tangga terutama yang berbahan dasar plastik, mengundang keprihatinan dari banyak pihak. Salah satunya dari Sekretaris Komisi B DPRD Kota Palangka Raya, Norhaini.
Dia mengatakan, plastik merupakan salah satu bentuk bahan sintetis dari pengolahan kimia yang akan sangat sulit terurai di alam bebas. Jika bahan organik membutuhkan waktu puluhan hari hingga berbulan-bulan untuk terurai, maka plastik memerlukan waktu ratusan hingga ribuan tahun.
"Bayangkan dampak kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh sampah plastik. Anak cucu kita di masa mendatang yang akan terdampak,” katanya, Senin 20 September 2021.
Untuk itu, legislator Partai Golkar ini mengajak seluruh elemen masyarakat mulai dari pemerintah, pihak swasta, hingga masyarakat sendiri untuk mulai meningkatkan kesadaran akan pentingnya lingkungan hidup yang seimbang serta membatasi penggunaan plastik.
“Agar pencemaran air dan tanah akibat sampah plastik tidak terus meningkat, sedangkan tingkat pencemarannya sendiri kita tahu sudah mencapai taraf yang mengkhawatirkan," ungkapnya.
Pemerintah perlu campur tangan agar membatasi produksi serta penggunaan plastik. Pihak industri juga sebaiknya mulai menghasilkan produk atau menciptakan teknologi daur ulang yang lebih ramah lingkungan.
--page
Sumber sampah plastik terbesar, menurut Norhaini berasal dari aktivitas rumah tangga. Kegiatan kita sehari-hari yang menggunakan kantong belanjaan plastik, kemasan makanan dan minuman plastik menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pencemaran lingkungan akibat plastik sulit teratasi. (HENDRI/B-11)









