PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala BPS Kalteng, Eko Marsoro dalam rilisnya mengungapkan ada beberapa komoditas utama yang diekspor Kalteng ke berbagai negara selama bulan Agustus 2021.

Komoditas tersebut diantaranya batu bara dan lignit yang masuk dalam kelompok bahan bakar mineral. crude palm oil, refined palm oil dan fraksinya, serta minyak kernel kelapa sawit pada kelompok lemak dan minyak hewani/nabati.

Selanjutnya, bijih zirconium, terak, abu, dan residu dengan kandungan utama seng selain hard zinc spelter, bijih seng, bijih ilmenit, dan bijih timbal masuk dalam kelompok bijih logam, terak, dan abu. Serta karet alam pada kelompok karet dan barang dari karet.

"Di banding bulan sebelumnya, terjadi peningkatan nilai ekspor untuk semua golongan barang, kecuali kelompok logam mulia dan perhiasan/permata, berbagai produk kimia, kayu dan barang dari kayu, serta beberapa komoditas yang tergolong dalam golongan barang lainnya," sebut Eko Jumat, 1 September 2021.

Eko mengatakan, ekspor lemak dan minyak hewani/nabati mengalami peningkatan terbesar yaitu sebesar US$ 37,97 juta atau 104,08 persen.

--page


Apabila dibandingkan dengan kondisi bulan Agustus 2020, nilai ekspor semua golongan barang pada Agustus 2021 mengalami kenaikan, kecuali beberapa komoditas yang tergolong dalam golongan barang lainnya.

Kemudian, komoditas bahan bakar mineral mengalami kenaikan nilai ekspor terbesar senilai US$ 85,63 juta atau 191,10 persen, diikuti oleh komoditas lemak dan minyak hewani/nabati yang meningkat senilai US$ 60,60 juta atau 437,55 persen.

Secara kumulatif, dari bulan Januari–Agustus 2021, ekspor Kalteng masih didominasi oleh komoditas bahan bakar mineral berupa batu bara senilai US$ 1.105,14 juta atau 58,59 persen dari total ekspor.

Komoditas lemak dan minyak hewani/nabati; logam mulia dan perhiasan/permata; bijih logam, terak, dan abu serta karet dan barang dari karet berkontribusi sebesar 35,08 persen.

Dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, nilai ekspor seluruh komoditas mengalami kenaikan, kecuali komoditas bijih logam, terak, dan abu yang menurun senilai US$ 35,85 juta atau 29,73 persen.

Sedangkan, kenaikan terbesar terjadi pada komoditas bahan bakar mineral yang meningkat sebesar US$ 395,18 juta atau 55,66 persen. (DONNY/B-7)