PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di tengah mewabahnya pandemi Covid-19, ternyata menambah tugas para para dewan guru selain tugas wajibnya mengajar, yaitu memastikan protokol kesehatan dapat dijalankan dengan baik oleh para pelajar.

Seperti yang diterapkan di Sekolah SDN 2 Mendawai, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat. Sejak diberlakukan PTM terbatas pada Senin, 27 September 2021. Selain menyiapkan bahan ajar, guru juga mempunyai tugas memantau prokes sejak pelajar datang hingga pelajar pulang sekolah.

Disampaikan oleh Kepala SDN 2 Mendawai Nani Yanti, meskipun ada tugas tambahan menerapkan prokes di sekolah. Pihaknya tetap semangat dan memusyawarahkannya dengan para guru - guru. Sehingga, proses pembelajaran tetap efektif namun prokes juga bisa dijalankan dengan baik.

"Di sekolah kami, kita tugaskan guru bidang studi untuk mengecek suhu ketika pelajar datang dan juga memanggil pelajar ketika pulang. Sementara guru kelas, memantau prokes anak didiknya di kelas," kata Nani Yanti saat ditemui Borneonews, Senin, 11 Oktober 2021.

Lanjutnya, para pelajar di SDN 2 Mendawai akan tetap didalam ketika orang tua atau walinya belum menjemput dan tiba di gerbang sekolah. Jadi ketika walinya sudah tiba di gerbang, barulah pelajar di panggil menggunakan pengeras suara untuk pulang. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari kerumunan saat pelajar pulang sekolah.

--page

Ia pun bersyukur sejauh ini penerapan Prokes di sekolahnya yang terdapat 290 pelajar tersebut, dapat menjalankan prokes dengan baik. Sehingga, sejauh ini tidak ada kasus pelajarnya yang terkonfirmasi positif Covid-19.

"Alhmdulillan anak - anak disini bisa dikatakan disiplin mengikuti apa yang sudah dianjurkan. Karena orang tua juga sudah mengisi pernyataan bahwa sanggup mengikuti apa yang kita sarankan," ungkapnya.

Kemudian, sejauh ini pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kobar serta anggota dewan juga telah memantau PTM di SDN 2 Mendawai. Tentu, ini semua untuk kebaikan dan berjalannya PTM sesuai dengan ketentuan Satgas Covid-19.

Nani Yanti berharap, kasus Covid-19 segera berakhir dan pelaksanaan sekolah dapat berjalan dengan normal kembali. Sebab menurutnya, pelaksanaan PTM terbatas membuat guru sedikit kerepotan. Sebab, selain memberikan materi secara langsung juga memberikan materi secara daring.

"Jadi setiap kelas hanya ada 50 persen dari jumlah siswa. Sisanya belajar di rumah. Jadi guru ini agak ribet juga, karena harus memberikan materi langsung dan daring," tuturnya.

Didamping itu juga, waktu pelajar pergi ke sekolah juga kurang. Dalam seminggu mereka hanya bisa turun ke sekolah sekitar tiga hari. Karena harus bergantian. Misalnya hari ini pelajar dengan daftar hadir 1 - 15, kemudian dihari berikutnya 15 - 30. Sehingga mereka tidak bisa full mengikuti kegiatan di sekolah.

"Mudah - mudahan Covid-19 segera berakhir. Sehingga semua dapat berjalan normal kembali. Anak - anak juga bisa lebih akrab dengan teman - temannya dan juga gurunya," pungkasnya. (DANANG/B-5)