PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Setelah dilakukan musyawarah oleh para tokoh Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, landmark yang biasa dikenal dengan nama Bundaran Monyet, di Desa Sungai Kapitan, Kecamatan Kumai, kini namanya berubah dan telah disepakati dengan sebutan Bundaran Bahari.

Keputusan tersebut berdasarkan hasil musyawarah yang dihadiri Camat Kumai Abdul Ghofur, Juriat Pangeran Bendahara Sayid Syamsudin Noor, dan sejumlah anggota DPRD Kobar.

Anggota DPRD Kobar Musawer menceritakan musyawarah sempat berjalan alot, namun akhirnya semua peserta musyawarah mencapai kata mufakat.

"Undangan itu setelah bada Isya' sampai setengah 12 (malam), kesepakatan memang cukup alot, tapi akhirnya bersepakat," ujarnya, Minggu, 17 Oktober 2021.

Musawer menerangkan, bahwa sejatinya bundaran tersebut belum memiliki nama, sehingga pihaknya berinisiatif memberi nama yang memiliki makna dan arti. Sebagai jati diri masyarakat Kumai.

--page

"Sebenarnya bundaran itu belum punya, kebetulan ada patung orang utan tetapi kecil-kecil, lalu masyarakat menyebutnya bundaran monyet," terang Politisi dari Fraksi PKB.

Musawer menjelaskan, nama BAHARI merupakan singkatan dari Bersih, Aman, Harmonis, Alami, Ramah dan Islami.

"Kami sudah dari dulu mengusulkan ke dinas terkait terkait perubahan nama itu. Kami DPRD sangat setuju dan mendukung perubahan nama itu karena lebih bermakna dan punya arti yang bagus," tutur Musawer.

Rencananya dalam waktu dekat, bundaran yang berada di Desa Sungai Kapitan ini akan dilakukan pembenahan menggunakan dana CSR melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kobar.

Dalam acara ini hadir pula Anggota DPRD Kobar Zainudin, Anggota DPRD Kobar Dicky Dzulkarnaen, Anggota DPRD Kobar Muhammad Asim, Mantan Anggota DPRD Kobar Ahmad Subandi, Mantan Anggota DPRD Kobar Rahmad, Kepala Desa Batu Belaman Rudi Hartono, dan sejumlah tokoh lainnya. (DANANG/B-5)