SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Cuaca mendung menaungi wilayah Jalan Jendral Sudirman Km 71, Desa Terawan, Kecamatan Seruyan Raya, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah (Kalteng), Sabtu siang, 30 Oktober 2021. 

Wartawan Borneonews.co.id bersama sejumlah pewarta lainnya tiba di sebuah rumah ibadah agama Islam. Baru membuka pintu mobil, mata 5 jurnalis Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang awalnya mengantuk tertuju dengan sebuah gapura besar. 

Mereka takjub melihat gapura tersebut, karena arsitekturnya mirip dengan gapura kerajaan di Pulau Jawa tempo dulu. Langkah kaki mulai diayunkan menuju bangunan berwarna hitam dan dipadukan dengan pagar bata merah tersebut. 

Sejumlah wartawan saat bersiap ingin melaksanakan salat dzuhur.
Sejumlah wartawan saat bersiap ingin melaksanakan salat dzuhur di dalam Musala As Salam.

Ketika berdiri di gapura, tangan pewarta yang melintas sempat menyentuh gapura itu. Ternyata bangunan itu bukan terbuat dari bata. Melainkan kayu ulin yang diukir nampak seperti bata hitam. 

--page

Lebih kagetnya lagi, di bagian depan juga terdapat ornamen suku Dayak. Dengan latar putih dan ukiran merah. 

"Itu kayu ulin, yang disusun dan dipasak agar menyerupai gapura. Bagian depan sengaja kami taruh ornamen Dayak, menggambarkan bahwa itu di Kalimantan," ujar Basuki, dari pelataran masjid. 

Basuki, merupakan orang yang memiliki ide dan dana untuk membangun rumah ibadah tersebut. Dirinya menamainya Musala AS Salam. 

Bangunan musala AS Salam dari bagian samping.
Bangunan musala AS Salam dari bagian samping.

Musala dibangun dengan kontruksi 90% limbah kayu ulin. Yang didapatkan dari sejumlah tempat. Rata-rata, ulin yang digunakan merupakan akar, dan dibentuk menjadi kepingan-kepingan seperti puzzle. 

Kepingan kayu ulin tersebut disusun dan dilekatkan menggunakan lem. Setelah itu dibentuk untuk menjadi dinding dengan perekat pasak. 

--page

"Semuda dinding, pintu, jendela dan hiasan dinding di mushola ini terbuat dari limbah kayu ulin," kata Basuki. 

Kepingan limbah kayu ulin yang digunakan untuk membangun mushola berukuran 7 meter x 7 meter tersebut, sebanyak 897 keping. Pihaknya membutuhkan waktu 3 tahun, guna menyelesaikan rumah ibadah tersebut. 

Bagian depan Musala AS Salam Jalan Jendral Sudirman Km 71, Desa Terawan, Kecamatan Seruyan Raya, Kabupaten Seruyan.
Bagian depan Musala AS Salam Jalan Jendral Sudirman Km 71, Desa Terawan, Kecamatan Seruyan Raya, Kabupaten Seruyan.

"Karena cukup rumit, waktu yang kami butuhkan yakni 3 tahun baru bisa menyelesaikan Musala AS Salam ini," terang Basuki. 

Konsep dari bangunan rumah ibadah tersebut yakni keberagaman. Karena, bangunan itu kental dengan Budaya Adat Dayak, Jawa, dan Banjar. 

--page

Hal itu sengaja dipilihnya, karena melihat bahwa di Kalimantan Tengah (Kalteng) ini, keberagaman agama, suku, adat, dan budaya sangat kental. Sehingga melalui mushola tersebut bisa tergambarkan. 

Mushola tersebut juga dibukanya untuk umum, siapapun yang ingin beribadah dan beristirahat diperbolehkan. Karena, tujuan dirinya membangun rumah ibadah itu, agar mempermudah para musafir atar warga sekitar untuk beribadah. 

Bangunan Musala AS Salam terlihat dari bagian luar.
Bangunan Musala AS Salam terlihat dari bagian luar.

"Bangunan ini berada di Jalan Trans Kalimantan. Jadi ini saya siapkan untuk masyarakat, baik warga sekitar maupun para musafir atau orang perjalanan," ucap Basuki.

Bangunan nan unik dan cantik, menjadi daya tarik selter sendiri bagi yang melihatnya. Sehingga tidak jarang, ada saja warga yang sekedar berfoto di rumah ibadah tersebut. 

--page

Mushola tersebut juga digunakan untuk anak-anak belajar mengaji, dan dirinya juga menyiapkan pendopo di samping bangunan itu, agar bisa dimanfaatkan warga untuk beristirahat. 

"Cita-cita saya kedepan, dilokasi ini juga dibangun madrasah," doa dari Basuki. (MUHAMMAD HAMIM/B-5)