PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kondisi Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia kembali berjaya dan meningkat pada angka 57,2 di Oktober 2021. Kondisi ini menunjukkan bahwa industri nasional kembali bergeliat pasca gempuran pandemi Covid-19.

Anggota Komisi VII DPR RI, Mukhtarudin mengatakan kenaikan manufaktur Indonesia tak lepas dari kebijakan pemerintah terkait pelonggaran kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat atau PPKM disejumlah daerah.

"Kita sangat apresiasi kinerja pemerintah dan Tim Satgas Covid-19, sehingga industri kembali menggeliat terlihat dari hasil PMI Manufaktur Indonesia yang kembali meningkat di Oktober," kata Mukhtarudin, Selasa 2 November 2021.

Menurut Mukhtarudin saat ini Indonesia mampu menangani pandemi Covid-19 varian Delta, sehingga kasusnya terus menurun. Bahkan sebelumnya, varian delta sempat menyebar luas di bulan Juni - Juli 2021, PMI sempat kembali turun karena terbatasnya mobilitas masyarakat.

"Jadi, saya kira ini kinerja PMI yang ekspansif 57,2 terbesar dalam sejarah, sebuah capaian yang luar biasa dari pemerintah (kementrian perindustrian) dan membuktikan bahwa industri manufaktur saat ini bergerak menguat," ungkapnya.

--page

Senin 1 November 2021, Direktur Asosiasi Ekonomi di IHS Markit Jingyi Pan menyampaikan, jika sektor manufaktur Indonesia mencatat pertumbuhan tercepat, menurut IHS Markit Indonesia Manufacturing PMI terbaru, mencerminkan perbaikan yang disebabkan oleh pelonggaran lebih lanjut dari pembatasan Covid-19.

Pada Oktober, sentimen bisnis secara keseluruhan menguat, naik di atas rata-rata, hal tersebut karena gangguan yang disebabkan oleh Covid-19 telah berkurang.

Kemudian peningkatan permintaan dan output juga diterjemahkan ke kepercayaan sektor manufaktur yang lebih baik, seperti yang terlihat baik melalui Indeks Output Masa Depan dan dalam aktivitas pembelian dan perekrutan perusahaan, semua tanda positif untuk sektor ini ke depan. (DANANG/B-6)