BORNEONEWS, Palangka Raya - Dari data yang dirilis BPS Kalteng, di bulan September 2021 lalu Impor Kalteng mengalami penurunan sebesar 14,87 persen atau hanya sebesat US$ 2,29 dibanding bulan sebelumnya yang tercatat senilai US$ 2,69 juta.
Sejalan dengan nilai impor tersebut, total volume impor Kalteng di September 2021 juga mengalami penurunan yaitu sebesar 31,29 persen atau 1,84 ribu ton dibandingkan dengan total volume impor bulan Agustus 2021.
"Turunnya nilai impor ini karena disebabkan oleh menurunnya impor non migas senilai yakni US$ 0,51 juta atau 38,64 persen," kata Kepala BPS Kalteng, Eko Marsoro, Kamis, 4 November 2021.
"Sedangkan nilai impor migas mengalami peningkatan senilai US$ 0,11 juta atau 8,03 persen," tambahnya.
Penurunan impor non migas di Kalteng ini dikarenakan menurunnya impor hasil industri yang berasal dari komoditas pupuk (pupuk kalium klorida).
--page
Sementara itu, peningkatan impor migas disebabkan oleh meningkatnya impor hasil minyak dari komoditas bahan bakar mineral berupa aspal.
Apabila dibandingkan dengan bulan September 2020, terjadi penurunan nilai impor sebesar US$ 2,09 juta atau 47,72 persen. Hal itu karena disebabkan oleh menurunnya nilai impor non migas senilai US$ 3,57 juta atau 81,51 persen.
Sedangkan untuk nilai impor migas meningkat sebesar US$ 1,48 juta dan tidak ada transaksi impor pada September 2020. Peningkatan ini didorong oleh meningkatnya impor hasil minyak berupa komoditas bahan bakar mineral (aspal).
Penurunan impor non migas tersebut disebabkan oleh menurunnya impor hasil industri berupa komoditas mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (mesin untuk mengekstrasi atau mengolah lemak atau minyak hewani/nabati tertentu).
Jika dihitung secara kumulatif, nilai impor Kalteng dari bulan Januari–September 2021 tercatat senilai US$ 36,80 juta. Hal ini mengalami kenaikan sebesar US$ 11,16 juta atau 43,53 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
--page
Peningkatan terjadi pada impor non migas yaitu senilai US$ 11,89 juta atau 76,76 persen yang disebabkan oleh meningkatnya impor hasilindustri.
Kemudian untuk impor migas mengalami penurunan senilai US$ 0,73 juta atau 7,19 persen yang disebabkan oleh menurunnya impor hasil minyak (aspal). (DONNY D/B-5)









