PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala BPS Kalteng, Eko Marsoro melalui rilisnya menerangkan impor komoditas barang Kalteng selama September 2021 berasal dari 6 negara yaitu Singapura, Arab Saudi, Jerman, Malaysia, Tiongkok, dan Brazil.

Komoditas barang impor dari Singapura yaitu berupa bahan bakar mineral (aspal), Arab Saudi dan Jerman berupa berbagai produk kimia (katalisator), Malaysia berupa mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (perangkat pembangkit tenaga listrik).

Kemudian komoditas barang yang diimpor dari Tiongkok yakni berupa mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (mesin penyortir, pengayak, pemisah atau pencuci), dan Brazil berupa bahan kimia organik (asam sitrat).

"Dibanding Agustus 2021 terjadi penurunan impor dari Laos pada September 2021 yakni senilai US$ 0,78 juta atau 100,00 persen, ini karena disebabkan oleh menurunnya impor pupuk kalium klorida," kata Eko, Kamis, 4 November 2021.

Selanjutnya impor dari Jerman juga mengalami penurunan senilai US$ 0,23 juta atau 46,94 persen, karena disebabkan oleh menurunnya impor mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (mesin penggergaji) dan berbagai produk kimia (katalisator).

--page

Apabila dibandingkan dengan bulan yang sama pada 2020, impor Kalteng di bulan September 2021 dari seluruh negara mengalami penurunan.

Impor dari Malaysia mengalami penurunan terbesar senilai US$ 4,04 juta atau 96,88 persen. Hal ini didorong oleh menurunnya impor komoditas mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (berupa mesin untuk mengekstrasi atau mengolah lemak atau minyak hewani/nabati tertentu).

Sementara itu peningkatan terbesar berasal dari Singapura yakni senilai US$ 1,48 juta dan tidak ada transaksi impor pada September 2020. Penurunan terjadi karena didorong oleh meningkatnya komoditas bahan bakar mineral (berupa aspal).

Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, nilai impor Kalteng dari bulan Januari–September 2021 dari seluruh negara naik sebesar US$ 11,16 juta atau 43,53 persen.

Berdasarkan negara asal hanya impor dari Malaysia, Laos, India, dan Jerman yang mengalami peningkatan. Secara kumulatif, peningkatan impor terbesar berasal dari Malaysia yakni senilai US$ 9,35 juta atau 85,54 persen. (DONNY D/B-6)