BORNEONEWS, Kasongan - Bencana banjir yang terjadi di Kabupaten Katingan pada awal September 2021 lalu ternyata tidak berpengaruh dengan produksi padi petani.
Pasalnya, saat bencana banjir melanda, petani terutama wilayah hulu Katingan sudah selesai panen.
"Jadi saat banjir melanda waktu itu para petani di wilayah tengah dan hulu Kabupaten Katingan sudah selesai panen, jadi hanya lahannya saja yang terendam, " ujar Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Katingan, Yosy, Kamis, 11 November 2021.
Menurutnya para petani di wilayah tengah dan hulu Katingan ini rata-rata panen padi setahun sekali.
Karena varietas padi yang ditanam adlaah jenis padi gogo umur lebih dari toga bulan.
--page
Sementara itu untuk lahan persawahan di wilayah hilir yang notabene adalah pengahasil padi terbesar di Katingan, yakni Kecamatan Katingan Kuala.
Yosy mengaku sawah-sawah milik petani saat itu tidak berpengaruh dengan adanya bencana banjir. Di wilayah ini petani rata-rata panen dua kali setahun, bahkan tidak jarang ada yang panen hingga tiga kali setahun.
Di wilayah hilir tersebut terjadi pasang surut air Laut Jawa, sehingga saat bagian hulu banjir wilayah ini tidak terlalu berpengaruh.
"Tapi kemarin ada laporan di Desa Kampung Keramat, Kecamatan Katingan Kuala ada tanggul yang jebol," ujarnya.
Akibat tanggul jebol itu, kata Yosy pengairan sawah di desa tersebut mejadi terganggu.
--page
Namun pihaknya sudah meminta camat setempat untuk membuat laporan kepada Bupati Katingan terkait itu untuk bisa ditangani. (ABDUL GOFUR/B-5)









