BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Sebuah peninggalan sejarah yang sangat tua dan langka yaitu Nekara, hasil Kebudayaan sebelum masehi dan merupakan peninggalan sejarah Kerajaan Kotawaringin, ternyata ada di Astana Al-Nursari, Kecamatan Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah (Kalteng).
Nekara atau gong yang terbuat dari perunggu tersebut, diperkirakan usia atau keberadaannya sudah ribuan tahun, dan pada zaman dahulu digunakan untuk ritual-ritual khusus.
Kepala Kepala Balai Arkeologi Kalimantan Selatan Nur Alam mengatakan, di Kalimantan, Nekara Perunggu hanya ada di dua tempat, yakni di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah dan di Kabupaten Sambas.
"Benda tersebut sangat luar biasa ada di sini karena historis dan usianya yang sudah sangat tua. Selain itu juga ada banyak benda budaya yang umurnya sudah ratusan tahun, berasal dari warisan era Majapahit. Ada juga beberapa keris pusaka, yang pada masanya digunakan oleh Sultan," kata Nur Alam saat dibincangi Borneonews.
Peruntukan Nekara di Astana Al-Nursari, rumah bosar peninggalan dari sultan Kotawaringin ke 12 yakni YM Pangeran Ratu Sukma Negara, belum bisa diketahui oleh para peneliti lantaran pihaknya kehilangan konteksnya.
--page
"Kalau historisnya Nekara digunakan untuk upacara khusus. Namun di sini, bisa jadi Nekara itu barang bawaan tamu sebagai persembahan dari pendatang," jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Nur Alam menyebutkan bahwa Astana Al-Nursari mewarisi kekayaan budaya yang cukup lengkap. Karena itu, warisan budaya yang terletak di Kotawaringin Lama, Kotawaringin Barat, tersebut layak dikelola dengan baik.
"Astana Al-Al-Nursari ursari memiliki kekayaan budaya paling lengkap dan memadai, maka menjadi representasi dari semangat kebhinekaan," ungkapnya.
Nurl Alam menambahkan, Program Balai Arkeologi Kalsel dalam penelitian sejarah Kesultanan di Kotawaringin Barat dan disimpulkan dalam buku pengayaan, dilakukan kurang lebih 10 tahun.
Selanjutnya, buku pengayaan disampaikan kepada peserta didik agar mereka memahami sejarah berdirinya Kotawaringin, dan toleransi antarsuku yang diajarkan dari temuan benda sejarah yang ada.
--page
"Melalui Rumah Peradaban dan diluncurkannya buku pengayaan, diharapkan anak-anak didik paham historisnya," imbuhnya.
Seperti halnya terkait struktur dan penempatan bangunan yang ternyata ada nilai historisnya, antara istana-istana yang ada di Indonesia pada umumnya dengan Istana Kuning yang ada di Kobar dengan konsep melayunya.
"Tentu hal ini dapat mempererat tali kebangsaan, sehingga anak-anak akan tahu mengapa Indonesia berbeda-beda tapi ada ikatan. Jadi harapannya, jangan menonjolkan perbedaan antarsuku, tetapi lebih kepada ikatan antarsuku," pungkasnya. (DANANG/B-7)









