BORNEONEWS, Pulang Pisau - Pengrajin anyaman tikar asli khas Kalimantan khususnya di Desa Jabiren, Kabupaten Pulang Pisau saat ini sepi dari pembeli. Hanya ada beberapa pesanan saja yang dibuatnya.
Akibat pandemi, sehingga para pengrajin pun terkena imbasnya. Hilangnya pemesan dan pembeli, namun Nenek ini tetap membuatnya, karena sudah mendarah daging untuk membuat anyaman tikar.
"Memang sejak kecil, kami kan selagi ikut orang tua kan sudah belajar gitu, belajar anyam tikar," Ucap Ite (74) nenek pengrajin anyaman tikar di Desa Jabiren, Jumat 19 November 2021.
Ia mengatakan terkadang membuatnya sendiri, terkadang dibantu adiknya, karena proses pembuatan cukup lama dan tergantung motif yang dibuat.
Untuk motif yang ditawarkan bermacam-macam. Dari motif bunga, daun, dan juga motif khas Kalimantan. Selain membuat anyaman tikar juga membuat anyaman tas, topi, dan dompet.
--page
Untuk satu lembar tikar seharga Rp 1 juta setengah sampai dengan Rp 2 juta tergantung kerumitan motifnya.
Dalam proses pembuatan dibuat selama satu bulan tergantung pemesanan. Terkadang untuk pemesanan sudah ada yang pesan dari jauh - jauh hari. Sedangkan untuk harga tas anyaman seharga Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu.
Selain itu ia juga mengharapkan semoga pengrajin anyaman tikar tidak punah. Memang dulu sering ada yang kumpul buat anyaman sampai 10 orang, tapi sekarang sudah sepi.
"Ya kalau ada anak - anak yang minat mau belajar, ya boleh belajar. Tapi sekarang anak-anak sekarang masing - masing bakatnya," ucapnya. (MAGANG-3/B-11)









