BORNEONEWS, Palangka Raya - Bank Indonesia melihat masih adanya potensi daerah yang dapat dikelola untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Kalimantan Tengah yang kuat. Salah satunya melalui peningkatan produktivitas dan kualitas komoditas ekspor melalui hilirisasi.
"Pada umumnya, sebagian besar komoditas ekspor unggulan Kalteng merupakan komoditas bahan mentah yang dilakukan dengan teknologi sederhana atau tanpa proses pengolahan lebih lanjut," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Tengah, Rihando dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia di salah satu hotel di Palangka Raya yang juga bisa diikuti melalui zoom meeting pada Rabu, 24 November 2021 .
Hal ini menurutnya menyebabkan kurangnya nilai tambah yang dihasilkan oleh komoditas ekspor tersebut, sehingga kurang optimal dalam memberikan dampak bagi kesejahteraan masyarakat.
"Untuk itu, hilirisasi produk dapat secara bertahap didorong, yang tentunya dengan tetap mempertimbangkan berbagai faktor antara lain kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) di daerah, keamanan/kejelasan dalam perizinan dan lahan, infrastruktur yang baik, elektrifikasi yang lancar, serta adanya kepastian pasar," jelas Rihando lagi.
Sehingga, katanya, pemanfaatan komoditas hilirisasi yang pada umumnya hanya sebagai revenue driver, dapat didorong menjadi economic booster yang akan berdampak pada aktivitas ekonomi lainnya dan meningkatkan kemandirian lokal, sekaligus dapat menjadi pemicu masuknya investasi ke Kalimantan Tengah.
--page
"Selain itu, perlu kiranya dilakukan eksplorasi Komoditas lain yang memiliki potensi ekspor. Melihat besarnya ketergantungan kita terhadap batu bara dan kelapa sawit, sudah saatnya kita mencoba mendorong potensi komoditas lain yang dapat mendongkrak kinerja ekspor kita," tuturnya.
Adapun komoditas yang menurut Bank Indonesia berpotensi meningkatkan kinerja ekspor antara lain komoditas sarang walet, komoditas Nipah yang tersebar luas di pesisir sungai Kalimantan Tengah, Komoditas Ubi Porang dan udang vaname yang saat ini tengah menjadi komoditas primadona yang didukung oleh Kementerian Pertanian dan Kementerian Kelautan dan Perikanan.
"Optimalisasi pengolahan dan pemasaran terhadap komoditas tersebut diharapkan dapat dilakukan di Kalimantan Tengah, sehingga dapat menciptakan lapangan kerja baru, sekaligus dapat menambah kontribusi UMKM bagi ekonomi daerah," paparnya. (TESTI PRISCILLA/B-7)









