PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Konferensi Iklim COP26 di Glasgow pada 13 November 2021, menghasilkan kesepakatan antarnegara untuk mengurangi emisi karbon melalui pengurangan penggunaan batubara secara bertahap.

"Hal ini tentu menjadi tantangan yang akan kita hadapi ke depan, mengingat ekspor Kalimantan Tengah saat ini masih didominasi oleh batu bara," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Tengah, Rihando.Itu disampaikan Rihando dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia tahun 2021 yang digelar pada Rabu, 24 November 2021 di salah satu hotel di Palangka Raya. Kegiatan juga bisa diikuti melalui zoom meeting.

"Oleh karena itu, perlu kiranya kita perlahan mengurangi ketergantungan pada batubara, dengan memanfaatkan potensi kekayaan alam Kalimantan Tengah yang luar biasa, sebagai nilai tambah bagi sektor pariwisata Kalimantan Tengah," tambah Rihando.

Pemanfaatan tersebut menurut Rihando dapat dilakukan melalui berbagai hal, seperti pembangunan kawasan agrowisata yang memanfaatkan potensi buah-buahan dan lahan perkebunan/pertanian yang kita miliki.

--page

"PSN Food Estate dan potensi buah-buahan lokal seperti Paken, Durian Katingan, dan Durian Undang/Otak Udang yang telah terkenal di tingkat nasional maupun internasional, dapat dikelola menjadi agrowisata yang dapat mendorong pendapatan daerah dari sektor pariwisata," tuturnya.

Selain itu, lanjut Rihando, pemanfaatan hutan yang tersebar di seluruh penjuru Kalimantan Tengah dapat dikelola dan difungsikan sebagai Healing Forest sarana relaksasi dengan media hutan. Di beberapa negara juga telah memanfaatkan dan melengkapi dengan sarana dan prasarana pendukung aktivitas hidup sehat. (TESTI PRISCILLA/B-7)