PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Hamparan pasir putih mulai terlihat karena air pantai mulai surut. Waktu itu dimanfaatkan sejumlah warga pesisir Pantai Bogam, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat yang langsung menyerbu dan membawa alat tangkap unik untuk berburu kerang bambu.

Ketika waktunya tiba, dari dewasa, remaja, dan anak-anak berburu kerang bambu yang mereka anggap hadiah dari alam.

Dengan terampil, tangan mereka memegang ember berisi berbagai benda yang terbilang unik, yaitu beberapa batang lidi dari pelepah kelapa, toples kecil yang di dalamnya terdapat adonan berwarna putih seperti  kapur, serta tongkat kecil sekitar satu meter.

Mereka langsung menyisir pantai yang saat itu sedang surut, tongkat kecil yang dibawa ditusuk-tusuk ke pasir seperti petani yang sedang menugal.

Sementara ibu-ibu yang sudah memegang lidi dengan telaten mencelupkan lidi tersebut ke adonan berwarna putih, kemudian memasukannya dalam lubang kecil dan menariknya kembali. Dalam hitungan detik tiba-tiba muncul ke permukaan pasir benda kecil sepanjang tiga ruas jari yakni kerang bambu atau pepahat untuk sebutan warga setempat.

Warga RT 07, Desa Teluk Bogam, Arifin Ilham yang saat itu sedang berburu kerang bambu menceritakan, keberadaan kerang bambu tidak sepanjang hari dan hanya berlangsung selama dua jam.

"Kerang bambu hanya muncul pada November dan Desember sepanjang tahunnya. Kami diberi kesempatan oleh alam untuk berburu kerang bambu hanya 2 jam setiap harinya, yaitu pukul 10.00 - 12.00 WIB saat air laut surut, sebelum akhirnya air laut akan kembali pasang," kata Arifin Ilham.

--page

Dia mengatakan, mencari kerang bambu ada keunikan tersendiri, terutama dari peralatan yang digunakan berupa lidi, kapur dan tongkat, dan peralatan tersebut ada kegunaannya masing-masing.

Arifin menjelaskan caranya, pertama siapkan kapur dan lidi kelapa serta tongkat, kemudian tongkat tersebut ditusukan ke pasir pantai atau di tugal sampai ketemu mata lubang tempat kerang bambu bersembunyi.

Setelah itu, baru dimasukan sedikit kapur yang dioleskan pada ujung lidi kelapa dan tidak sampai 30 detik pepahat atau kerang bambu pun akan keluar.

"Ditugal itu untuk mengetahui mata lubangnya tempat kerang bersembunyi dan di pancing dengan kapur itu agar dia keluar karena kerang di dalam tanah itu pada mabuk setelah d kasih kapur yang terbuat dari kapur kulit kapah, kapur dibuat sendiri bukan kapur keluaran pabrikan," jelasnya.

Kerang bambu yang diperoleh tersebut, selain untuk dikonsumsi sendiri, musim kerang bambu menjadi berkah bagi warga Teluk Bogam, mengingat harganya yang lumayan mahal, perkilogramnya mencapai Rp 50 ribu. Namun warga biasanya menjual dengan takaran sabun colek Rp 15 ribu.

"Kerang bambu ini rasanya sangat lezat, meski hanya direbus dengan berbagai bumbu seperti serai, garam, bawang putih, bawang merah, dan penyedap rasa. Tergantung selera bisa juga dimasak asam manis. Tentunya, kerang bambu ini menjadi incaran karena hanya ada di musim tertentu," pungkasnya. (DANANG/B-11)