PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala UPTD Pusat Kesehatan Hewan atau Puskeswan Kota Palangka Raya, drh Eko Hari Yuwono mengatakan pengendalian demam babi afrika atau yang dikenal dengan istilah African Swine Fever, disingkat ASF, baik itu di Kota Palangka Raya maupun Provinsi Kalimantan Tengah.

"Kami sudah menyelenggarakan rapat koordinasi pengendalian ASF di Kalimantan Tengah ini pada bulan lalu. Meskipun rapat koordinasi ini kami laksanakan secara virtual, harapan kita, apa yang menjadi hasil keputusan dari rapat dapat dilaksanakan oleh masing-masing pihak terkait," kata drh Eko kepada Borneonews pada Minggu, 28 November 2021.

Menurut Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia atau PDHI Kalimantan Tengah ini, rapat koordinasi ini juga menghadirkan dua orang narasumber yaitu Kepala Balai Veteriner Banjarbaru, drh Putut Eko Wibowo, serta Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Provinsi Kalteng, Ir Sunarti dengan kehadiran 47 partisipan.

Sementara itu, drh Putut Eko Wibowo yang membawakan materi Situasi dan Hasil Investigasi Penyakit ASF di Kalimantan Tengah ini mengatakan bahwa penyebaran ASF di Kalimantan Tengah diawali dari Kapuas dan Pulang Pisau, lalu diikuti dengan Palangka Raya, Gunung Mas, Murung Raya dan Katingan.

"Masa inkubasi itu dari 3 hari sampai dengan 3 minggu hingga gejala yang ditemukan seperti demam, ruam merah, diare dan muntah darah, pembesaran limpa, hingga kematian mendadak dapat ditemukan," kata drh Putut dalam materinya.

Pengambilan sampel berupa darah, serum, organ, sampel genangan air dan sungai menurutnya terus dilakukan meskipun tantangan yang ditemukan di lapangan juga tidak sedikit.

--page

"Tantangan kita mulai dari sistem pemeliharaan yang masih bersifat tradisional, kandang yang dibangun di atas sungai, pengendalian limbah bangkai yang tidak memadai, bahkan ada yang dibuang ke sungai, adanya penjualan produk turunan bangkai babi baik berupa daging atau dendeng," paparnya lagi. (TESTI PRISCILLA/B-11)