BORNEONEWS, Jakarta - Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes menyebut daya tahan demokrasi di Indonesia relatif kuat meskipun terjadi penurunan indeks demokrasi.
"Di tengah situasi penurunan indeks demokrasi, saya kira kita masih punya optimisme (untuk kembali membaik) karena kita punya daya tahan demokrasi yang kuat," ujarnya.
Hal tersebut disampaikannya saat menjadi panelis dalam diskusi publik yang diselenggarakan What's Viral bertajuk Demokrasi Timur Berjaya, Rabu 8 Desember 2021.
Daya tahan itu bersumber dari modal sosial Indonesia yang kuat. Modal tersebut dapat dilihat melalui keberadaan rasa saling percaya di antara masyarakat, harmonisasi kehidupan, dan sikap Indonesia sebagai negara yang cenderung menghindari konflik.
Selain modal sosial, Indonesia juga memiliki daya tahan demokrasi yang kuat karena adanya kepercayaan publik kepada pemerintah.
"Trust (kepercayaan) publik kepada lembaga eksekutif cukup tinggi. Yang menjadi soal, trust kepada lembaga noneksekutif," ucapnya.
--page
Kepercayaan publik pada lembaga pemerintah noneksekutif itu perlu diperbaiki sehingga daya tahan demokrasi di Indonesia pun dapat makin kuat.
Di samping itu di tengah penurunan indeks demokrasinya, Indonesia masih memiliki daya tahan demokrasi yang relatif kuat karena kepuasan publik terhadap pemerintahan masih tinggi, yaitu di atas 60 persen.
"Kepuasan publik terhadap demokrasi sebagai satu-satunya sistem politik yang cocok untuk Indonesia itu cukup tinggi. Kalau kita lihat agregat dari survei Indikator senilai 67,4 persen dan survei terakhirnya 71,9 persen," katanya.
Terkait dengan penurunan indeks demokrasi di Indonesia, Arya menilai kondisi tersebut terjadi karena tiga faktor.
Pertama, penurunan itu disebabkan sistem kepartaian di Indonesia yang memburuk sebagaimana hasil pengamatan dari Analis Australian National University Marcus Mietzner.
Marcus Mietzner berpendapat memburuknya sistem kepartaian di Indonesia disebabkan tiga aspek, yaitu lemahnya representasi, menguatnya personalisasi politik, dan tidak adanya demokrasi internal partai.
Kedua, ada pula polarisasi politik yang menguat dalam dua pemilu terakhir dan yang ketiga adalah korupsi politik. Hal-hal itu, menurut Arya menurunkan indeks demokrasi di Indonesia.
ANTARA









