TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang - Plt Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM Kabupaten Barito Timur, Kariato menanggapi protes yang menyebut pemerintah mengubah tradisi hari pasar mingguan yang telah dibangun nenek moyang dari zaman penjajahan Belanda. Dia mengajak masyarakat harus beradaptasi dengan perkembangan zaman agar tidak kalah bersaing.

"Banyak di media sosial yang mengatakan bahwa jadwal  Pasar Ampah dan Pasar Tamiang Tamiang Layang sudah ditetapkan sejak zaman Belanda, kita zamannya sudah berbeda, dulu orang tua saya dari Telang Siong berjalan kaki ke Tamiang Layang, masyarakat dari Hayaping dan dari Bentot dulu juga jalan kaki ke Tamiang Layang," ujar Kariato di kantornya, Selasa, 4 Januari 2022.

"Lalu apakah karena alasan tradisi kita ikut berjalan kaki dari desa ke Tamiang Layang sekarang? Kalau kita masih ikut kebiasaan nenek moyang atau orang tua kita dulu kita akan ketinggalan zaman," lanjutnya.

Karena itu, jelas Kariato, kebijakan yang dibuat pemerintah terkait perubahan jadwal pasar mingguan di Pasar Ampah dan penghapusan pasar mingguan di Tamiang Layang untuk mengikuti perkembangan zaman dan menyesuaikan kebutuhan masyarakat saat ini.

Dia mencontohkan, pasar di Kota Buntok Kabupaten Barito Selatan dan Kota Tanjung Kabupaten Tabalong dulu juga memiliki jadwal pasar mingguan namun saat ini ditiadakan.

"Perubahan ini bukan berarti kita tidak menghargai jasa-jasa pendahulu kita yang telah mendirikan pasar dan membuat jadwal pasar namun perubahan ini bertujuan untuk menyesuaikan dengan keadaan saat ini dan mengikuti perkembangan zaman," jelasnya.

--page


Kariato menambahkan, pada zaman nenek moyang kita tidak ada jualan online, jika alasan tradisi nenek moyang lalu masyarakat atau khusus pelaku usaha tidak beradaptasi dengan perkembangan teknologi tersebut bisa ketinggalan atau kalah bersaing.

"Sangat tidak mungkin kita melupakan jasa-jasa para pendahulu kita, hanya saja kita tidak bisa hidup dengan kondisi masa lalu terus, ini kan sudah bukan zaman penjajahan Jepang atau Belanda kita harus mengikuti perkembangan modern dan kebutuhan masyarakat saat ini," tuturnya.

Kariato mengajak masyarakat yang menolak pemindahan jadwal pasar mingguan untuk mendukung keputusan pemerintah ini agar aktivitas ekonomi dapat berjalan lancar.

"Ayolah masyarakat yang kontra dukung pemerintah ini, kita bisa melihat dengan perubahan jadwal pasar mingguan ini saudara-saudara yang muslim juga tidak terganggu kegiatan salat jumatnya ketika jadwal pasar dipindah pada hari Senin, pasar juga bisa dibuka dari pagi sampai sore," kata Kariato. (BOLE MALO/B-7)