BORNEONEWS, Sampit - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kotawaringin Timur mendata, akhir tahun 2021 tadi Kota Sampit mengalami inflasi. Salah satu komoditas yang memiliki andil dalam inflasi yakni cabai rawit.
Kota Sampit mengalami inflasi 0,66 persen. Inflasi Kota Sampit kali ini disebabkan adanya peningkatan indeks harga pada beberapa kelompok pengeluaran didominasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau 0,98 persen.
"Komoditas yang memiliki andil paling besar ialah cabai rawit dengan persentase sebesar 0,30 persen," kata Kepala BPS Kotim, Eddy Surahman, Rabu 5 Januari 2022.
Dengan persentase itu menempatkan Kota Sampit berada pada posisi ke 51 dari kota inflasi di Indonesia.
Kelompok pengeluaran lainnya yang memiliki andil besar dalam inflasi yang terjadi bulan lalu. Yakni, perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,93 persen, kelompok transportasi 0,92 persen, kelompok perlengkapan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,56 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,55 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya 0,53 persen, dan kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,36 persen.
Sementara beberapa komoditas yang memiliki andil dalam inflasi di Kota Sampit bulan Desember 2021, antara lain cabai rawit, angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, mangga, sampo, telur ayam ras, cabai merah, ikan tongkol, semen, dan beras.
"Namun, ada pula sejumlah komoditas yang mengalami penurunan indeks harga, seperti daging ayam ras, bawang merah, ikan patin, semangka, air kemasan, tomat, dan lain-lain," imbuhnya.
--page
Sementara itu secara umum Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,57 persen pada Desember 2021. Dari total 90 kota yang menjadi acuan indeks harga konsumen (IHK), 88 kota di antaranya mengalami inflasi dan sisanya deflasi.
Sedangkan di Pulau Kalimantan seluruh kota IHK mengalami inflasi dengan posisi pertama adalah Kota Tanjung Selor sebesar 1,31 persen dan yang terendah Kota Pontianak sebesar 0,32 persen. (USAY NOR RAHMAD/B-6)









