PEMBANGUNAN secara umum telah diukur secara makro dengan ukuran-ukuran objektif. Namun, ukuran tersebut belum cukup, karena masih perlu ukuran subjektivitas dari apa yang dirasakan oleh masyarakat terhadap hasil pembangunan.
Apakah daerah dengan angka kemiskinan yang tinggi akan memiliki tingkat kebahagiaan yang rendah? Apakah daerah dengan tingkat pengangguran tinggi akan memiliki tingkat kebahagiaan yang rendah? Atau apakah daerah dengan nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang tinggi memiliki tingkat kebahagiaan yang tinggi pula? Ataukah penduduk yang tinggal di wilayah yang memiliki nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang tinggi akan lebih bahagia dibandingkan mereka yang tinggal di wilayah dengan PDRB rendah? Pertanyaan-pertanyaan tersebut pada dasarnya muncul karena kelemahan ukuran pembangunan secara makro.
Indikator ekonomi makro, seperti IPM, angka kemiskinan, besaran inflasi maupun tingkat pengangguran, menurut penelitian, ternyata masih menyisakan dua kelemahan mendasar yaitu: tidak mampu menggambarkan tingkat kemakmuran (welfare) ataupun kesejahteraan (well-being) bagi seluruh penduduk secara nyata, serta tidak dapat merefleksikan pemerataan pendapatan bagi semua penduduk di suatu wilayah.
Berbagai Indikator ekonomi makro di atas pada dasarnya mengukur semua nilai tambah yang dihasilkan dari faktor produksi di suatu wilayah dalam suatu periode waktu (bulanan, triwulanan, maupun tahunan) tanpa mempertimbangkan adanya dampak positif dan negatif bagi kehidupan penduduk yang mengkonsumsi hasil produksi tersebut.
Di antara seluruh konsumsi penduduk tersebut, terdapat beberapa konsumsi seperti: rokok, alkohol, zat adiktif, dan sebagainya, yang justru dapat berdampak negatif terhadap kehidupan para penduduk serta berkemungkinan untuk menurunkan tingkat kesejahteraan penduduk di wilayah itu sendiri.
--page
Sementara itu, pelemahan bahkan krisis ekonomi secara berkepanjangan hingga saat ini yang dialami sebagai dampak pandemi oleh berbagai negara berpendapatan perkapita tinggi, telah menunjukkan kepada kita betapa indikator ekonomi makro tersebut sesungguhnya hanya memberikan perspektif yang bersifat parsial dan tidak menyeluruh terhadap kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan kehidupan penduduk di suatu wilayah.
Penggunaan indikator kesejahteraan untuk mengevaluasi perkembangan pembangunan pada suatu negara, pada umumnya dipahami 2 (dua) hal, yaitu: 1) indikator ekonomi makro, misalnya: produk domestik bruto dan pertumbuhan ekonomi, merupakan indikator pembangunan yang parsial dan kurang sempurna dalam merepresentasikan tingkat kesejahteraan penduduk, dan 2) indikator kesejahteraan dianggap penting oleh sebagian besar penduduk dalam mendefinisikan keberhasilan pembangunan nasional. Namun demikian, indikator ekonomi makro yang telah digunakan selama ini tidak akan diabaikan atau digantikan dengan indikator kesejahteraan begitu saja.
Sementara, hingga saat ini ukuran subjektif belum menjadi konsensus, sebagai ukuran hasil pembangunan berdampingan dengan ukuran objektif lainnya. Badan Pusat Statistik mencoba untuk membangun suatu ukuran yang objektif dalam mengukur tingkat kebahagiaan yang intangible ini. Alat ukur yang dibangun tersebut diberi nama Indeks Kebahagiaan.
Indeks Kebahagiaan dibentuk sebagai ukuran pembangunan yang bersifat subjektif ditawarkan untuk melihat persepsi masyarakat, tentang apa yang dirasakan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. BPS telah melaksanakan kajian tentang tingkat kebahagiaan beberapa kali, yaitu uji coba tahun 2012 dan 2013, kemudian survei pengukuran tingkat kebahagiaan (SPTK) sebanyak 3 kali, tahun 2014, 2017, dan yang terbaru pada 2021. Pendekatan yang digunakan adalah kepuasan hidup (life satisfaction), afeksi (affection), dan eudaimonia atau makna hidup.
Meskipun kebahagiaan adalah suatu objek intangible atau suatu objek yang tidak memiliki wujud atau bentuk fisik yang nyata, kebahagiaan didefinisikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai kesenangan dan ketentraman hidup lahir dan batin.
--page
Kebahagiaan diartikan juga sebagai sebuah konsep berupa hasil evaluasi kehidupan yang menggambarkan kondisi hidup yang baik dan hidup yang bermakna (Good Life and Meaningful Life). Kebahagiaan pun sama dengan life satisfaction atau kepuasan hidup, di mana kebahagiaan dapat difenisikan sebagai “overall appreciation of one’s life as a whole” sebagai mana dideskripsikan oleh Ruut Veenhoven.
Indeks Kebahagiaan disusun atas 3 (tiga) dimensi penyusun, yaitu Dimensi Kepuasan Hidup, Dimensi Perasaan, dan Dimensi Makna Hidup. Dimensi kepuasan hidup dibedakan menjadi subdimensi kepuasan hidup personal dan kepuasan hidup sosial. Pengukuran ini mengidentifikasi tingkat kebahagiaan sebagai sebuah ukuran subjektif terhadap kondisi objektif berbagai domain kehidupan manusia.
Dengan demikian, pada setiap domain kehidupan yang esensial tersebut akan diukur kondisi faktualnya secara objektif kemudian diikuti oleh ukuran subjektif berupa penilaian tingkat kepuasan terkait kondisi objektif pada aspek kehidupan tersebut. Selanjutnya, dimensi perasaan (affect) dan makna hidup (eudaimonia) diperoleh dengan didasarkan pada ukuran subjektif.
Akhirnya, tingkat kebahagiaan merupakan gambaran umum tingkat kepuasan penduduk terhadap keseluruhan domain kehidupan manusia yang dianggap esensial dengan memperhitungkan pula aspek perasaan dan makna hidup seseorang. Kerangka kerja ini dibangun dengan turut memasukkan kondisi sosial ekonomi masyarakat Indonesia sebagai determinan yang turut memengaruhi kebahagian penduduk.
Nilai indeks kebahagiaan penduduk Kalimantan Tengah pada tahun 2021 meningkat 2,28 poin dari yang semula 70,85 pada tahun 2017 menjadi 73,13 di tahun 2021. Nilai indeks kebahagiaan penduduk di Kalimantan Tengah bila dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain di Pulau Kalimantan, hanya lebih tinggi bila dibandingkan dengan indeks kebahagiaan di Provinsi Kalimantan Barat (72,49.)
--page
Meskipun begitu, nilai indeks kebahagiaan penduduk Kalimantan Tengah ini lebih tinggi bila dibandingkan nilai indeks kebahagiaan secara nasional (71,49). Ditinjau dari semua dimensi penyusun indeks, baik indeks kepuasan hidup, indeks perasaan, dan indeks makna hidup, penduduk Kalimantan Tengah memiliki nilai yang lebih tinggi daripada nilai rata-rata nasional.
Bila ditinjau dari karakteristiknya, penduduk Kalimantan Tengah yang tinggal di perkotaan lebih bahagia dibandingkan mereka yang tinggal di perkotaan. Penduduk laki-laki di Kalimantan Tengah lebih bahagia daripada penduduk perempuan. Status perkawinan pun memengaruhi tingkat kebahagiaan penduduk Kalimantan Tengah, penduduk yang berstatus menikah paling bahagia dibandingkan mereka yang belum menikah, cerai hidup dan cerai mati.
Tingkat pendidikan terakhir yang ditamatkan pun memiliki andil dalam besaran nilai indeks kebahagiaan penduduk Kalimantan Tengah. Semakin tinggi pendidikan seseorang, tingkat kebahagiaan seseorang akan cenderung semakin tinggi. Hal ini searah juga dengan tingkat pendapatan seseorang.
Jadi dapat disimpulkan bahwa, di Kalimantan Tengah, semakin tinggi tingkat pendidikan dan semakin besar pendapatan penduduk itu, semakin tinggi pula tingkat kebahagian penduduk tersebut. Masih didasarkan oleh hasil survei ini, diketahui bahwa, penduduk dalam rentang umur 25 -40 tahun adalah penduduk terbahagia pada semua kelompok umur.
Pemerintah dapat mengambil peran untuk semakin meningkatkan kebahagiaan penduduknya dengan semakin meningkatkan sarana dan prasarana untuk menunjang pendidikan penduduknya dan untuk semakin menyejahterakan mereka, terutama dalam masa pandemi ini.
Pemerintah dapat menyokong tingkat pendapatan penduduknya yang cenderung menurun pada masa pandemi ini, misalnya dengan memberikan modal usaha, membangun lapangan kerja padat karya, atau dengan memberikan bantuan sosial bagi mereka yang terdampak hebat karena pandemi. Karena dari hasil survei yang telah dijabarkan di atas, semakin tinggi pendidikan dan semakin sejahtera seseorang maka tingkat kebahagiaan mereka cenderung lebih tinggi pula.
Penulis: Syifasari Diennabila/Staf Seksi Statistik Harga Konsumen dan Harga Perdagangan Besar, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah.









