PALANGKA RAYA –

Meningkatnya Pengguna Internet di Indonesia  

Tidak ada yang dapat memungkiri bahwa era digital terus berkembang dan pandemi Covid-19 membawa masyarakat untuk beradaptasi jauh lebih cepat terhadap kemajuan teknologi. Beberapa tahun yang lalu kita jarang sekali melakukan pertemuan online yang melibatkan banyak orang. Namun kini, hal itu menjadi sebuah rutinitas biasa.

Jumlah pengguna internet di Indonesia pun terus meningkat. Kementerian Komunikasi dan Informatika menyebutkan bahwa di tahun 2021, ada sebanyak 202,6 juta masyarakat Indonesia yang telah menjadi pengguna internet. Jumlah ini meningkat 15,5%  bila dibandingkan dengan tahun 2020.

Pengguna internet di Indonesia datang dari berbagai kelompok umur. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga kaum lansia. Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sedikitnya 14,1% lansia di Indonesia pun telah menjadi pengguna aktif internet.

Ketidaksempurnaan Pemahaman Generasi Analog

Era digital memang membawa banyak kemudahan bagi banyak kalangan, akan tetapi penyalahgunaan internet juga marak ditemui. Penyalahgunaan internet tak hanya dilakukan dengan sengaja untuk tujuan merugikan orang lain, namun juga dilakukan dengan tidak sengaja yang bahkan merugikan diri sendiri. Kondisi ini banyak dialami oleh para generasi analog.

Penyalahgunaan internet bagi generasi analog umumnya terjadi bukan karena masalah pendidikan. Terlihat dengan banyaknya kasus dari generasi analog yang tidak mampu menempatkan ruang digital pada porsi yang tepat, meski mereka memiliki latar belakang pendidikan yang baik. Salah satu contohnya adalah kasus personel TNI yang dicopot karena komentar negatif istrinya di sosial media. Akibat ketidakpahaman konsep ruang digital, sang istri merugikan pasangannya dan bahkan dirinya sendiri.

Fenomena lain yang juga marak dilakukan generasi analog adalah penyalahgunaan sosial media oleh para emak-emak gaul. Para emak gaul ini umumnya secara sadar mengumbar berbagai hal tentang kehidupan pribadi mereka di sosial media. Mereka memposting hal-hal yang bersifat pribadi, seperti aktivitas mereka sehari-hari, mencantumkan nama ibu kandung dalam profil, no handphone, tanggal lahir anak, tempat tinggal dan lain sebagainya. Tanpa mereka duga, mereka secara sengaja membuka celah besar untuk para pelaku kejahatan. Penjahat dapat dengan mudah mengetahui identitas dan keseharian mereka lewat postingan-postingan yang ada di sosial media.

Tidak hanya itu generasi analog umumnya memiliki sebuah kebanggaan tersendiri ketika berhasil menandingi kemampuan generasi millenial, terutama dalam hal intensitas kehadiran di sosial media. Mereka rela melakukan berbagai cara termasuk hal-hal berbahaya, hanya untuk mendapat perhatian dan pengakuan.  Contohnya seperti emak-emak viral yang berjoget-joget di lampu merah jalanan, persis di tengah kepadatan lalu lintas. Kejadian tersebut dilakukan hanya untuk membuat konten tiktok yang diharapkan mampu menyita banyak perhatian.

Perlu dipahami bahwa penyalahgunaan internet yang dilakukan generasi analog bukan semata-mata karena tingkat pendidikan yang mereka miliki. Namun lebih karena pola pikir dan ketidakmampuan generasi analog untuk beradaptasi secara utuh terhadap konsep digital. Akibatnya, generasi analog rentan sekali untuk mengalami bahaya akibat perbuatan mereka sendiri.

Internet Sebagai Sebuah Kebutuhan

Meski demikian, ketidakmampuan generasi analog untuk memahami era digital secara utuh tidak lantas menghindarkan mereka dari penggunaan internet. Kini internet adalah sebuah kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dari keseharian. Terlihat dari data BPS yang menunjukkan bahwa saat ini rata-rata rumah tangga di Indonesia menghabiskan 3,4% konsumsi bulanan rumah tangganya untuk keperluan layanan internet. Kondisi ini dilakukan secara rutin sebagai sebuah kebutuhan rumah tangga. Angka yang setara dengan Rp 165.000 rupiah per rumah tangga per bulan ini, tidak akan temui ditahun-tahun terdahulu.

Penggunaan internet pun dilakukan untuk berbagai tujuan. Di Indonesia sendiri, mayoritas tujuan penggunaan internet digunakan untuk mengakses sosial media. Data BPS menunjukkan 89,1% penggunaan internet di Indonesia adalah untuk berselancar di sosial media. Angka ini jauh dibandingkan mereka yang menggunakan internet untuk mengakses berita atau mengerjakan tugas.

Tak heran, bila Indonesia menjadi negara dengan pengguna sosial media terbanyak nomor empat dunia. Bahkan pada aplikasi tiktok sendiri, Indonesia mampu menduduki peringkat dunia yang kedua. Hal ini juga didukung dengan kontribusi besar generasi analog diranah sosial media.

Jika ketidaksempurnaan pemahaman era digital terjadi pada generasi millenial, maka perlu adanya tindak lanjut, terutama dari sisi pendidikan. Namun, apabila masalah terjadi pada pola pikir dan ketidakmampuan adaptasi secara utuh yang dialami generasi analog, maka pendidikan bukan merupakan solusi yang pantas ditawarkan. Perlu adanya sosialisasi masif dan terstruktur tentang konsep era digital serta batasan-batasan yang harus dipatuhi dan dijaga dalam memasuki ruang digital. Sebab pola pikir dan adaptasi utuh terhadap konsep digital sangat diperlukan oleh generasi analog. Salah satu media yang dapat dimanfaatkan adalah tv analog. Sebab tv analog juga menjadi salah satu media yang masih kerap digunakan oleh para generasi analog. Jangan biarkan generasi analog tersesat dalam dunia digital yang mereka pikir mereka pahami.

Penulis: Lydia Putri/Statistisi Badan Pusat Statistik