PULANG PISAU –

BORNEONEWS, Pulang Pisau - Memasuki musim tanam padi di tahun 2022 ini para petani food estate di Desa Belanti Siam, Kecamatan Pandih Batu, Kabupaten Pulang Pisau banyak yang mengharapkan untuk bisa melakukan tanam 2 kali dalam setahun dengan hasil yang optimal.

Sejauh ini menurut petani, masih ada beberapa kendala seperti cuaca angin kencang dan serangan hama ketika memasuki bulan Oktober dan November. Sehingga para petani sering mengalami kegagalan memasuki musim tanam ketiga.

Kepala Dinas Pertanian (Kadistan) Pulang Pisau, Slamet Untung Riyanto, dalam kesempatannya menjelaskan, ada beberapa penyebabnya tidak bisa melakukan penanaman ketiga dalam 1 tahun baik dari segi alamnya yang berbeda maupun Sumber Daya Manusia (SDM) yang belum mendukung.

"Memang ada wacana, namanya Indeks Pertanaman. Itu dimulai 2020, ternyata didalam pelaksanaan itu tidak berhasil dalam arti bukan gagal ya, tapi tidak memenuhi target. Di tanam ke 3 karena banyak hamanya. Terutama SDM nya kurang, petaninya kurang," ujar Slamet Untung Riyanto.

Pihaknya sudah melaporkan ke pusat jika itu diteruskan kasihan para petani.  "Jadi kembalilah mengoptimalkan, jadi tetap 2 musim tanam tapi dioptimalkan untuk produksinya," ujarnya.

--page

"Kalau di paksapun kasihan petani. Karena berbeda cuaca, apalagi untuk melawan alam itu berbeda dan itu susah. Dimana saat tikus beranak pinak itu ganas. Di situlah tanaman baru tumbuh, ya semalam pun tanaman dimakan selesai," ucap Slamet Untung Riyanto.

Dia mengatakan, pemerintah juga sudah mengambil sikap. Dari hasil laporan yang sudah ada kepusat. Dan akhirnya para petani diharapkan untuk bisa mengoptimalkan pola tanam yang ada, terutama untuk Indeks Pertanaman (IP) 200, dalam satu tahun 2 kali tanam. Kalau IP 300 berarti satahun 3 tanam. 

"Dan kita mengakui untuk cuaca dan wilayahnya pun berbeda. Terlibih kendala pengairannya. Kalau disinikan pengairannya mengandalkan sungai, dan pasang laut air sungai," tutupnya. (MAGANG 3/B-5)