BORNEONEWS, Tamiang Layang - Bank Sampah Mentari yang dirintis Gusti Wirdaningsih bersama empat rekannya sekitar bulan November 2020, kini telah memiliki 180 orang nasabah. Nasabah adalah sebutan bagi mereka yang menabung sampah anorganik di Bank Sampah Mentari. Sampah itu dinilai dengan uang kemudian menjadi saldo rekening.
Adapun sampah atau barang bekas yang diterima oleh Bank Sampah Mentari yaitu aneka plastik, kertas, botol kaca, logam seperti seng, besi, aluminium, tembaga dan timah serta minyak jelantah.
"Selain nasabah yang 180 itu banyak juga masyarakat yang menyetor sampah tapi tidak menjadi nasabah atau menabung, mereka langsung ambil uangnya saat menyetor sampah," ungkap Wirdaningsih saat diwawancarai, Selasa, 1 Maret 2022.
Dia merasa pencapaian bank sampah yang terletak di RT 22 Perumahan Mekar Indah, Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur tersebut belum seberapa karena masih banyak warga yang sembarang membuang atau membakar sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi.
"Setoran sampah dan SDM (sumber daya manusia) kami juga masih kurang. Kami kalau keluar ambil sampah di rumah warga tidak bisa setiap hari karena harus membagi waktu juga. Orang menyetor ke sini atau kami mengambil langsung ke rumah juga harus meluangkan waktu terlebih dahulu," ujar Wirdaningsih.
Kendala lain yang dihadapi Bank Sampah Mentari yaitu tidak semua orang mau menyetor atau mengantar sampah ke bank sampah meski punya mobil sendiri.
"Jadi kami mengangkut sampah dari rumah warga seminggu sekali untuk menghemat biaya operasional. Kami menggunakan sepeda motor roda tiga atau mobil pikap yang disewa," jelas Wirdaningsih yang kini dapat mengirim sampah satu atau dua kali sebulan sebanyak 3 ton sekali kirim.
--page
Selain kendala itu, masih banyak warga yang memilih hanya menjual sampah yang memiliki nilai jual tinggi seperti kertas HVS putih dan kardus. Padahal tujuan pihaknya mengajak masyarakat mengumpul dan menyetorkan sampah bukan saja untuk mendapatkan uang tapi juga untuk melestarikan lingkungan dengan menggunakan kembali atau mendaur ulang sampah anorganik.
Untuk mengembangkan bank sampah yang dikelolanya serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengumpulkan dan menabung sampah, Wirdaningsih berencana bekerja sama dengan pihak lain agar dapat menggunakan aplikasi sehingga lebih mudah saat ada yang akan menyetorkan sampah.
"Kami berharap didukung dari kantor-kantor pemerintah dengan tidak membakar sampah-sampah kertas, melainkan menyetorkan ke bank sampah sehingga memiliki nilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan yang lain sekaligus menopang pertumbuhan bank sampah yang kami kelola," tandasnya. (BOLE MALO/B-11)









