PALANGKA RAYA –

PEMBUKTIAN salam dari Binjai bukan sekedar menghantam pohon pisang saja. Beberapa pekan yang lalu saya memberikan tanggapan kritis mengenai tantangan Jekson Karmela terhadap petinju pohon pisang, dikarenakan pertandingan ini sangat jauh dari keahlian Jekson Karmela yaitu salah satu Atlet Muay Thai di adu dengan seorang mantan Atlet Petinju Profesional yang sering kita liat di atas ring.

Melihat latar belakang Paris Pernandes yang dulu nya hanya sekedar membuat konten di Tik-Tok dengan melontarkan pukulan bertubi-tubi terhadap pohon pisang sampai tumbang. Sehingga viral di media sosial sampai saat ini, sehingga dijuluki sebagai petinju pohon pisang Binjai.

Kita sama-sama mengetahui sebelum Paris Pernandes melakukan aksi nya ia memulai nya dengan mengucapkan Salam dari Binjai,  ia melakukan hal tersebut juga untuk mengharumkan nama kota Binjai agar dapat terdengar sampai ke ujung dunia dengan prestasinya yang berlimpah.

Seperti yang warga Tanah Air ketahui  proses seorang Paris Pernandes bukan lah hal yang mudah untuk berdiri setara dengan tokoh papan atas yang sudah membawa nama baik Indonesia di bidang olahraga yaitu kejuaraan PON yang membawa mendali emas untuk cabang olahraga Muay Thai.

Lantas dalam pertarungan selebgram Paris Pernandes dengan Atlet Muay Thai Jekson Karmela menjadi sorotan publik sehingga mengundang salah satu tokoh Hukum ternama di Tanah Air seperti Hotman Paris salah satu nya dan beberapa tokoh artis lainnya seperti Vicky Prasetyo melawan Aldi Taher.

--page

Hal ini membuat saya syok lantaran kenapa bisa? Seorang juara Pon cabang olahraga kalah terhadap petinju pohon pisang?

Paris Pernandes menjelma menjadi bintang di media sosial pada 2021 saat aksinya memukul pohon pisang lalu viral di dunia maya. Aksi tersebut mengundang motivasi tersendiri dari kaum milenial. Kekejaman Paris Pernandes saat merobohkan pohon pisang bisa ia tunjukkan di ring tinju dalam duel melawan Jekson Karmela.

Ini jujur saya sangat terkejut melihat hasil akhir pertandingan Paris Pernandes melawan Jekson Karmela di ring. Saya berpikir apakah pada saat itu Jekson Karmela kondisi kebugaran tubuh nya sedang bermasalah atau tidak layak bertarung? Tetapi dengan kemenangan point Paris Pernandes yang membuat pukulan betubi-tubi ke wajah sang Atlet PON tersebut sehingga membuat para penonton menjadi panas dan bersorak nama “Binjai, Binjai, Binjai” sehingga semangat seorang Paris Pernandes pun langsung meledak pada saat itu sehingga pukulan yang diberikan Paris Pernandes tidak ter-elak kan lagi oleh Jekson Karmela sehingga wasit membunyikan lonceng yang pertanda pertandingan selesai.

Usai pertandingan selesai Paris Pernandes langsung sujud dan berterima kasih kepada yang Maha Kuasa karena sudah dapat bertanding di atas ring secara gagah dan tidak ada kata mundur dalam hatinya sambil menangis haru.

Dalam duel Paris vs Jekson, kedua petinju menunjukkan pertarungan yang menarik dan memukau sepanjang empat ronde berlangsung. Paris menampilkan kombinasi pukulan beruntun yang dahsyat sedangkan Jekson juga menunjukkan dirinya piawai dalam bertinju. Kedua petarung terus saling tukar pukulan hingga ronde keempat usai. Paris lalu dinyatakan sebagai pemenang dengan keputusan split decision.

--page

Saya bangga melihat kemenangan Paris Pernandes karena impian ia untuk mengalahkan Jekson Karmela sudah terwujud dan kemenangan ia di ring itu adalah salah satu kunci kesuksesan dia untuk melangkah ke depan nya menuju ke arah yang lebih baik.

Kemenangan Paris Pernandes juga dianggap sebagai motivasi anak-anak Bangsa untuk terus berusaha dan berjuang tanpa memikirkan dari mana asalmu, rasmu, dan agamamu. Hal ini membuat semua anak-anak bangsa semakin giat berlatih dan terus berdoa agar dimudahkan dalam mengejar cita-citanya.

Tak luput juga seorang Paris Pernandes berterima kasih terhadap orang-orang yang sudah membimbing dia hingga saat ini. Paris Pernandes yang saya kira akan lupa terhadap orang-orang yang membawa ia hingga sampai terkenal di penjuru belahan pulau Indonesia atau biasa dengan sebutan kacang lupa kulit ternyata malah kebalikkannya.

Penulis: Pardamean Naipospos/Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Palangka Raya