MUARA TEWEH –

BORNEONEWS, Muara Teweh - Bupati Barito Utara, H Nadalsyah mengungkapkan bahwa produktivitas kebun kelapa sawit rakyat saat ini tergolong rendah, berkisar 2 hingga 3 ton/ha/tahun. Padahal, perkebunan sawit di Indonesia memiliki potensi yang besar. 

Rendahnya produktivitas perkebunan sawit rakyat ini antara lain disebabkan kondisi tanaman yang sudah tua dan rusak serta sebagian menggunakan benih yang bukan unggul dan bersertifikat.

“Oleh karena itu perlu dilakukan peremajaan tanaman kelapa sawit dengan menggunakan benih unggul dan bersertifikat. PSR dilaksanakan dengan memenuhi empat unsur, yakni legal, produktivitas, sertifikasi indonesia sustainable palm oil (ISPO), dan prinsip sustainabilitas,” katanya, Rabu, 2 Maret 2022. 

Nadalsyah juga mengatakan dalam memenuhi unsur legal pekebun rakyat yang berpartisipasi dalam program ini, harus mengikuti aspek legalitas tanah. 

Unsur produktivitas dalam program ini adalah untuk meningkatkan standar produktivitas hingga 10 ton tandan buah segar (TBS) perhektar pertahun dengan kepadatan tanaman kurang dari 80 pohon per-hektar.

--page

Sedangkan unsur sertifikasi ISPO dimaksudkan untuk memastikan prinsip keberlanjutan dalam program ini, yakni peserta program ini difasilitasi untuk mendapatkan sertifikasi indonesia sustainable palm oil (ISPO) pada panen pertama. 

Sementara prinsip sustainabilitas yang dimaksud adalah program dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip keberlanjutan yang meliputi tanah, konservasi, lingkungan, dan lembaga.

“Dalam program ini, BPDPKS menyalurkan bantuan dana kepada pekebun rakyat peserta PSR sebesar Rp30 juta perhektar setiap pekebun,” kata Nadalsyah.(RAMADHANI/B-7)