BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Konflik Rusia - Ukraina yang berujung pada pecahnya perang kedua negara tersebut bisa berdampak pada kondisi ekonomi dan politik negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Menyikapi dinamika politik keamanan global di awal 2022 Anggota Banggar DPR RI Mukhtarudin menyampaikan perlu disikapi dan disiasati oleh pemerintah terkait pengaruhnya terhadap naiknya beban subsidi, khususnya BBM dan LPG yang meningkat dan melebihi asumsi APBN 2022.
"Konflik perang Rusia - Ukraina, akan memberikan pengaruh politik dan ekonomi yang mengharuskan pemerintah mengkalkulasi ulang strategi kebijakan serta program pemulihan ekonomi dan reformasi struktural yang menjadi fokus pemerintah di 2022," kata politisi Fraksi Golkar, Rabu 2 Maret 2022.
Mukhtarudin menyatakan jika pendadakan strategis Ukraina ini harus terus dicermati untuk mengantisipasi dampaknya terhadap ekonomi Indonesia lebih lanjut, karena situasi politik keamanan dan ekonomi Indonesia sangat dipengaruhi oleh dinamika global.
"Jadi saya kira konflik global ini kembali menyadarkan kita untuk selalu waspada dan menghadapi pendadakan strategis, karena kenaikan harga minyak dunia juga akan menyebabkan beban subsidi, untuk pembelian minyak mentah semakin berat," bebernya.
Pasalnya kenaikan harga minyak mentah dunia yang mencetak rekor baru tembus ke level US$ 105 per barel itu sangat mempengaruhi APBN yang mana beban subsidi, khususnya pasokan BBM dan LPG akan meningkat dan bisa melebihi asumsi APBN 2022.
"Defisit produksi minyak dan gas di dalam negeri, kenaikan harga minyak dunia ini tentu akan memukul keuangan negara APBN kita," jelasnya.
Kementerian Keuangan mencatat subsidi energi pada Januari 2022 mencapai Rp10,2 triliun, membengkak lebih dari empat kali lipat bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Beban subsidi ini akan semakin meningkat manakala harga minyak mentah melonjak.
Naiknya harga minyak mentah dunia juga memicu kenaikan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) tercatat menembus angka US$ 95,45 per barel.
--page
Dengan harga ICP yang naik maka akan menciptakan gap yang cukup jauh antara asumsi ICP dalam APBN tahun 2022 yang dipatok sebesar US$ 63 per barel.
"Oleh karena itu dinamika ini harus terus monitoring dan diantisipasi dampaknya. Baik harga minyak, maupun harga LPG," pungkasnya.
Atas konflik yang terjadi, Mukhtarudin berhadap agar Rusia dan Ukraina segera menemukan titik temu untuk menghentikan penggunaan kekerasan, dan menggunakan saluran diplomatik untuk memulihkan stabilitas dan perdamaian di Ukraina. (DANANG/B-6)









