BORNEONEWS, Palangka Raya - Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau GAPKI, Mukti Sardjono mengatakan bahwa total konsumsi minyak sawit dalam negeri pada Januari 2022 adalah 1,506 juta ton atau 160 ribu ton lebih rendah dari konsumsi Desember 2021 sebesar 1,666 juta ton atau turun 9,6%.
"Konsumsi terbesar adalah untuk biodiesel sebesar 732 ribu ton, diikuti untuk industri pangan sebesar 591 ribu ton dan untuk oleokimia 183 ribu ton," kata Mukti dalam rilis persnya pada Sabtu, 12 Maret 2022.
Menurut Mukti, konsumsi minyak sawit untuk biodiesel yang melampaui untuk pangan telah terjadi sejak November 2021.
"Ekspor minyak sawit bulan Januari 2,179 juta ton turun 11,4% dari Desember 2021 sebesar 2,460 juta ton dan lebih rendah 23,8% dari ekspor Januari 2021 sebesar 2,861 juta ton," jelasnya lagi.
Selain itu, Mukti menjelaskan bahwa konflik Rusia-Ukraina juga telah mendorong naiknya harga minyak bumi lebih dari US$100/barrel yang akan menambah beban pemerintah dan juga negara-negara lain.
--page
"Dalam pasar minyak nabati, semester pertama 2022 diperkirakan akan terjadi defisit pasokan, apalagi Ukraina sebagai salah satu produsen bunga matahari dan rapeseed, sehingga mendorong naiknya harga minyak nabati dan berakibat minyak sawit akan menjadi harapan utama negara importir. Oleh sebab itu, pemerintah perlu mengatur secara bijak penggunaan dalam negeri dan ekspor minyak sawit untuk menjaga neraca perdagangan nasional," sarannya.
Bagi pekebun, katanya, peningkatan efisiensi dan produksi merupakan dua hal yang harus terus menerus diupayakan. (TESTI PRISCILLA/B-7)









