SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Gerbang Sahati yang berada di depan Stadion 29 Nopember Sampit  kondisinya saat ini tidak seindah pasca dibangun lalu.

Setiap malam gerbang ini yang biasanya dihiasai lampu dan tulisan mulai gelap gulita tampak gelap gulita. Bahkan sejumlah  masyarakat menyayangkan gerbang itu gelap, padahal itu menjadi salah satu ikon kebanggan masyarakat Kotim.

“Saya beberapa kali malam  melintas di jalan itu melihat tulisan-tulisan yang awalnya kelihatan karena ada lampu kini tidak terlihat lagi. Bahkan PJU di sekitarnya juga tidak menyala lagi,”kata Dwi Handayani salah satu warga Baamang menyebut, Jumat, 25 Maret 2022

Ia menyebutkan awalnya sebelum  gerbang ini gelap gulita memang ada lampu sebagian hidup, bahkan di bagian tulisan pun hanya ada beberaspa hurup yang lampunya hidup.

Tapi sekarang kata dia sudah mati total tidak ada yang hidup lagi, sehingga kondisinya tidak bisa dilihat keindahannya pada malam hari.

--page

Senada yang diungkapkan Dodi Sujarwo, warga Jalan Bumi Raya I, menyebutkan biasanya kawasan Stadion terlihat terang karena ada lampu penerangan di gerbang itu, namun tidak berlangsung lama lampu kerap kali mati.

“Kami berharap lampunya bisa dihidupkan lagi selain itu juga kalau hidup tidak seram dan membahayakan juga kalau pulang tengah malam melintas di jalur itu," tukas Dodi

Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menghabiskan anggaran sebesar Rp 697 juta untuk perbaikan Gerbang Sahati di Jalan Tjilik Riwut, kawasan Stadion 29 Nopember. 

Gerbang Sahati dikerjakan CV Usaha Jaya Bersama selaku penyedia jasa dan CV Katiga Rancang Utama sebagai konsultan pengawas. 

Sesuai dokumen perjanjian kontrak kerja, pekerjaan dilaksanakan pada 3 Agustus – 1 Desember 2021. Gerbang Sahati memiliki lebar sekitar 13 meter dengan tinggi 12 meter. 

--page

Awalnya gerbang ini terlihat megah ketika siang dan malam hari, permainan lampu membuatnya menjadi salah satu gerbang pembuka bagi mereka yang masuk ke Kota Sampit dari Palangka Raya. (NACO/B-5)