PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Tak bisa dipungkiri, bahwa dalam pemenuhan daging di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) masih ketergantungan dengan daerah pulau Jawa. 

Untuk itu karena merebaknya wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) disejumlah wilayah di Indonesia akan berdampak pada kurangnya stok ternak dan naiknya harga daging.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kobar, Rosehan Pribadi melalui Kabid Pembibitan dan Produksi Risanty mengatakan munculnya wabah ini pasti berdampak pada harga daging, sebab dalam mendatangkan sapi dari luar itu harus dari daerah yang bebas PMK, disertai dengan peraturan dan pemeriksaan yang ketat.

"Keterangan dari Balai Karantina Hewan, mereka tidak melarang jika ternak masuk dari daerah yang bebas PMK, tetapi pada saat mau keluar harus di Karantina 14 hari disana, dan sampai di sini minimal di Karantina 7 hari. Oleh sebeb itu akan terjadi penambahan Cost dan terjadi kekurangan ternak dan akan berdampak pada harga daging," kata Risanty saat dikonfirmasi Borneonews, Senin, 11 Mei 2022.

Saat ini kebutuhan daging di Kobar itu sekitar 1 ton per harinya atau sekitar 10 - 15 ekor sapi. Jumlah populasi sapi di Kobar saat ini mencapai 20 ribu ekor dengan 8 ribu di antaranya milik PT Sulung Ranch.

--page

Risanty mengakui jika beberapa hari ini memang para jagal mau menaikan harga daging, tapi DPKH tidak mempunyai hak untuk mengiyakan atqu melarang, jadi itu wewenangnya Asosiasi Pengusaha Pemotong Sapi (Apsepsi) Kobar.

Ia mengimbau masyarakat tidak panik dan ragu mengkonsumsi daging. Sebab, daging yang berasal dari rumah potong hewan (RPH) sudah dipastikan Aman, Sehat, Utuh dan Halal (Asuh).

"Maka konsumen ini harus beli daging yang dipotong di RPH. Karena dipastikan kesehatannya dan konsumen terlindungi, kalau diluar RPH diluar kami tidak bisa menjamin Asuhnya," pungkasnya. (DANANG/B-11)