KALANGAN DPRD Murung Raya prihatin terhadap kenakalan remaja yang terjadi saat ini. Bahkan dinilai hal tersebut sudah sangat mengkhawatirkan.
Berdasarkan data yang terhimpun, aksi kenakalan remaja yang marak adalah mengonsumsi minuman keras (miras) serta menghirup lem.
Menghirup lem atau yang disebut ngelem bisa memberikan efek layaknya mengonsumsi narkotika atau obat-obatan terlarang (narkoba).
Apalagi, pernah terjadi seorang remaja tewas akibat ngelem.
Selain itu, setahun terakhir banyak kasus serupa lainnya, seperti siswa salah satu SMP banyak yang tertangkap tangan sedang mengonsumsi lem fox dan serta obat batuk cair (jika digunakan over dosis bisa menimbulkan efek seperti narkoba) di lingkungan sekolah.
Wakil Ketua DPRD Mura Rejikinor menyuarakan keprihatiannya atas hal tersebut.
Menurutnya, dari sekian rentetan kasus tersebut jelas mencerminkan bahwa pengaruh buruk kenakalan remaja sudah merambah hingga di tingkatan umur yang masih sangat muda. Hal tersebut harus menjadi perhatian serius banyak kalangan.
Kinoi, sapaan akrabnya menilai, banyak faktor penyebab kenakalan remaja yang terjadi. Bisa dari pergaulan atau minimnya pengawasan dari orangtua.
“Kondisi seperti ini tidak bisa dianggap hal yang biasa, harus dilakukan upaya pencegahan secara intensif dari semua pihak, baik itu pemerintah, sekolah dan orangtua. Generasi muda harusnya terus dibentengi dari berbagai pengaruh buruk,” tuturnya.
Faktor lainnya yang dapat memicu kenakalan remaja, seperti melalui akses informasi yang begitu terbuka saat ini, sehingga informasi yang bersifat negatif mudah didapat, hingga pengaruh pergaulan lingkungan dan trend pergaulan bebas.
Penyebab lainnya, jelas Kinoi, maraknya pemberitaan pemberitaan di televisi tentang trend kenakalan remaja yang kadang dicerna oleh para anak yang menonton sebagai informasi baru dan membuat ingin mempraktekannya.
“Dahulu, siapa yang tau tentang mengisap lem fox bahkan sampai mengkosumsi obat batuk, saat ini hampir semua anak tau, meski tidak seluruhnya pernah mencobanya. Itu kan sebuah informasi yang kadang dicerna dengan salah.”(PP/B-11)


