Pesta kembang api, panggung hiburan outdoor dan indoor, serta konvoi kendaraan mewarnai malam lepas-sambut 2015-2016 di mana-mana. Acara-acara renungan, syukuran, dan pesta kecil-kecilan di kalangan organisasi, komunitas, lingkungan permukiman atau rumahan, juga ikut mewarnai malam pergantian tahun masehi itu.

Kini semua acara perayaan telah usai. Sekarang kita mulai menapaki  2016. Tahun, yang menurut mitologi Cina, sebagai “Tahun Monyet Api”.

Namun alangkah baiknya kita menengok sejenak ke belakang, pada jejak perjalanan 2015 sebagai refleksi, sebelum melangkah jauh di 2016.  Yaitu tahun yang, bagi Kalimantan Tengah (Kalteng) khususnya, sarat dengan cerita dan romantika.

Sejak awal tahun, sebagai buntut dari jatuhnya pesawat AirAsia di sekitar Selat karimata dan Teluk Kumai, pada 28 Desember 2015, Kalteng mencatatkan misi kemanusiaan yang sangat mengesankan baik poihak di negeri ini hingga mancanegara. Khususnya bagi Pangkalan Bun, ibukota Kabupaten Kotawaringin Barat, yang menjadi Posko Utama misi SAR AiarAsia selama 82 hari.

Koran The Straits Times yang terbit di Singapura pun takjub. Media itu menyebut Pangkalan Bun sebagai ‘’a small town with a big heart’’, sebuah kota kecil yang berhati besar!

Tapi kemudian Kalteng dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang marak dan menimbulkan darutan bencana kabut asap selama sekitar empat bulan. Malapetaka yang sampai mengundang kehadiran Presiden Jokowi dua kali berkunjung ke Bumi Tambun Bungai ini, baru reda sekitar pertengahan November.

Namun, baru sedikit bernapas lega, kebakaran besar melanda Biro Keuangan dan Biro Perekonomian di komplek Kantor Gubernur Kalteng, Minggu (1/11/2015) siang. Peristiwa ini menelan kerugian sekitar Rp15 miliar. Empat pekan kemudian, Minggu (29/11/2015) dinihari, giliran sayap kiri Kantor KPU Kalteng, yang dilalap si jago merah.

Yang mengejutkan, Kapolda Kalteng Brigjen Fakhrizal, dalam jumpa pers akhir tahun lalu, mengungkapkan bahwa dua kebakaran obyek vital di Kota Palangka Raya itu diduga kuat sengaja dibakar. Ini berdasarkan hasil kesimpulan Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polri. Tapi, belum ditetapkan tersangkanya.

Berikutnya adalah “bencana” penundaan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kalteng, yang batal ikut serta dalam Pilkada Serentak 2015 secara nasional pada 9 Desember 2015. Pilgub Kalteng terganjal proses hukum pasangan calon bermasalah, Ujang Iskandar-Jawawi, yang menolak dicoret meski ketahuan berbekal surat dukungan palsu dari PPP kubu Ketua Umum Djan Faridz.

Kini, diawal 2016, kita berharap kondisi Kalteng di segala bidang menjadi lebih baik. Jika pada awal 2015 ditandai oleh misi kemanusiaan yang mengesankan, situasi dan peristiwa buruk yang mewarnai pertengan dan akhir tahunnya, jangan sampai terjadi pada 2016.

Mulai sekarang, semua harus mawas diri. Bismillah, mari kita patahkan mitos buruk ‘’Tahun Monyet Api”.