PROGRAM konfersi minyak tanah ke gas LPG 3 Kg yang merupakan program pemerintah pusat terancam gagal.
Pasalnya sebagian masyarakat Sukamara penerima tabung elpiji 3 Kg memilih tidak menggunakan dengan berbagai alasan.
Salah satunya warga kesulitan memperoleh isi ulang gas elpiji 3 Kg serta kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap keamanan dari tabung gas beserta aksesorisnya, sehingga memilih untuk menjual tabung gas tersebut. Satu paket konversi yang berisi kompor, selang regulator dan gas 3 kilo gram tersebut dijual dengan harga Rp100 ribu hingga Rp150 ribu.
Hal ini yang menjadi faktor belum suksesnya program kofersi minyak tanah ke gas LPG di Sukamara. Seperti diungkapkan Midah warga Kelurahan Mendawai Kecamatan Sukamara ini.
Ia mengaku telah menjual tabung gas miliknya dengan alasan takut kompor yang dibagikan pihak pemerintah mudah meledak.
“Tabung gas yang diterima pada Novmber 2015 lalu sudah saya jual sama tentangga yang tidak menerima bantuan tabung gas,” ungkapnya.
Begitu juga dengan Ita penerima tabung gas 3 Kg lainnya. Dia juga sudah menjual tabung gas dan kembali menggunakan kompor karena merasa lebih aman.
“Saya sudah jual tabung gas dengan harga Rp150 ribu beserta aksesorisnya. Saya lebih memilih menggunakan kompor minyak tanah karena lebih aman.” ucap Ita, Minggu (03/01/2016).
Selain itu, Mira mengungkapkan dirinya membeli tabung gas milik tetangganya karena kesulitan untuk mencari isi ulang tabung gas 3 kilo gram.
“Untuk agen elpiji 3 kg memang beda dengan agen gas LPG 15 Kg, alasananya karena yang 3 Kg itu subsidi, tapi kalau carinya sulit sama saja menyusahkan masyarakat,” terangnya.
Tabung gas yang dibeli dari tetangga lanjutnya Mira, yang tidak mau menggunakan tabung gas miliknya dengan alasan takuk tabung gas bisa meledak, sehingga dijual dengan harga murah.
“Saat ini masih ada tetangga yang menawarkan tabung gas nya kepada saya dengan murah,” ungkapnya. (MG-13/B-6)


