PRIA berkumis tebal dengan kulit legam tampak akrab dengan anak-anak. Silih berganti ia menurunkan dan menaikan bocah kecil di keramaian Pantai Kubu ke kursi Odong-odong. Remote kecil berwarna hitam tidak pernah lepas dari tangannya.

Alat itu digunakan untuk mengoperasionalkan musik anak-anak yang menjadi ciri khas permainan itu. Satu kali naik dengan durasi satu lagu atau 3,5 menit para ibu harus merogoh uang Rp10 ribu. Tapi saat satu lagu selesai anak-anak kadang tidak mau turun.

Ialah Kholis (32), pria asal Jawa Timur ini merupakan mantan penambang pasir Zircon (Puya) di Sungai Sekonyer, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar). Hampir lima tahun ia bekerja dalam ketidaktenangan, bayang-bayang ketakutan tertangkap oleh razia aparat selalu mewarnai hari-harinya saat menambang.

Ia mengakui, hasil dari menambang Zircon mampu menghidupi keluarganya di Jawa. Tapi ia selalu resah saat bekerja. Alasan itulah yang membuatnya banting setir menjadi penarik Odong-odong.

Saat ditemui Borneonews di Pantai Kubu, Minggu (3/1/2016), ia sumringah, odong-odongnya penuh dengan anak-anak. Ia mengaku selama perayaan Tahun Baru terhitung Jumat (1-3/1/2016) ia mampu membawa pulang pundi-pundi rupiah hingga Rp300 ribu per hari.

Pendapatan ini berbanding terbalik saat hari-hari biasa dimana ia hanya membawa pulang uang Rp100 ribu atau paling banter Rp200 ribu. “Tapi hasil ini saya syukuri, ini sudah luar biasa buat saya, berbeda dulu walau hasilnya lumayan tapi tidak memberikan ketenangan buat saya dan keluarga,” ujar Kholis di sela-sela kesibukannya bekerja.

Sayangnya, Odong-odong tersebut bukan miliknya. Ia hanya menjalankan milik bosnya yang berada di Surabaya. “Ini milik saudara saya, tidak ada patokan berapa jumlah yang saya harus kirim dalam sebulannya.”

Walau begitu, saban bulan nilai yang dikirimkan ke sang bos mencapai Rp2,5 juta. Ia mengungkapkan odong-odong dengan berbagai bentuk binatang lucu seperti Gajah, Jerapah dan tokoh kartun  tersebut satu unitnya mencapai Rp25 juta diterima di Kumai.

Kholis saat ini tinggal di Kecamatan Kumai, saban hari ia mangkal di Pelabuhan Panglima Utar hingga malam hari. Ia berencana ekspansi ke Pangkalan Bun. Sebulan terakhir, ia survei ke tempat-tempat keramaian di Pangkalan Bun. “Di Kumai kalau sudah malam sepi.”
(KK/B-2)