KALANGAN asosiasi memprotes keputusan Kementerian Pertanian (Kementan) membuka keran impor daging variasi pada tahun ini 2016. Langkah pemerintah dianggap akan merugikan peternak lokal.
Mereka meminta Presiden Jokowi menegur Menteri Pertanian (Mentan) Amran Nasution. “Ketimbang membuka impor, seharusnya Kementan serius menumbuhkan produksi daging di dalam negeri,” kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perhimpunan Peternak Sapi Kerbau Indonesia (PPSKI), Rochadi Tawaf, Minggu (3/1/2016).
Ia menerangkan, daging variasi berupa potongan daging dengan tulang dan tanpa tulang. Bentuknya berupa daging segar dingin (chilled) dan beku (frozen) yang berasal dari ternak ruminansia. Yaitu terdiri dari buntut (tail), lidah (tounge), dan jenis potongannya.
Harus adil
Pengamat peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), Arief Daryanto, menambahkan, pemerintah harus berlaku adil. Dengan adanya impor, pemerintah harus memberikan insensif bagi peternak lokal. “Itu jalan yang adil ketika keran impor dibuka,” ujarnya.
Dia juga meminta izin impor daging variasi dikendalikan, jangan sampai merugikan peternak lokal. Pemerintah mesti menjaga harga di tingkat peternak yang saat ini baru saja menikmati keuntungan.
Impor juga harus dijamin bebas dari penyakit yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian No 139/2014 tentang pemasukan yang salah satunya mengenai daging variasi.
Pada pasal 9, lanjut Arief, impor harus bebas dari penyakit mulut dan kuku (PMK), rift valley fever (RVF), contagious bovine pleuropneumonia, serta bovine spongiform encephalopathy (BSE) untuk pemasukan daging ruminansia besar.
Sebelumnya, Kementan menyebut pembukaan keran impor karkas ternak di 2016 telah melewati sejumlah pertimbangan publik, termasuk dari kalangan asosiasi peternak. Hal tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 58/Permentan/PK.210/11/2015 tentang pemasukan karkas, daging, dan atau olahan ke dalam wilayah Indonesia per 7 Desember 2015. (B-1)








