BERBICARA tentang perekonomian lokal Kalimantan Tengah, dan Kabupaten Kotawaringin Barat, khususnya, tak bisa dilepaskan dari dinamika perekomian global dan regional.
Secara umum ekonomi global dalam setahun terkahir dalam tekanan. Ini ditandai dengan penurunan harga minyak dunia, jatuhnya nilai mata uang dari banyak negara, dan ditambah kebijakan Amerika Serikat, China dan Uni Eropa yang sepertinya lebih prihatin karena resesi ekonomi. Kondisi tersebut berlaku bagi perekonomian kawasan ASEAN, China, Jepang, India, dan Pakistan.
Kondisi tersebut berdampak pada negara-negara yang mengandalkan ekonominya pada komoditas mentah. Harga komoditas jatuh. Secara nasional, Indonesia yang ekonominya lebih dari 50 persen ditopang oleh komoditas mentah, sudah pasti juga ikut tertekan. Contoh, komoditas batu bara. Selama ini kita ekspor ke China. Kini China permintaan pasarnya juga turun. Komoditas karet dan kelapa sawit juga terpukul. Permintaan dari negara-negara importir dominan memang turun.
Namun, kondisi ekonomi Indonesia sebenarnya masih bagus. Fundamental ekonomi cukup bagus. Ini karena ditopang oleh sektor konsumsi yang tinggi. Hampir 60 persen ekonomi Indonesia ditopang oleh sektor konsumsi, dalam hal ini oleh belanja masyarakat maupun pemerintah. Ini yang membuat ekonomi kita masih tumbuh hingga 4 persen lebih.
Dampak pada ekonomi lokal
Perekonomian lokal Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) juga ditopang oleh komoditas. Karena itu, krisis global juga sedikit banyak memukul pertumbuhan perekonomian Kalteng. Pukulan pertama terutama dari turunnya harga batu bara. Daerah seperti Muara Teweh, sebelah selatan Kalimantan, yang dulunya mengalami pertumbuhan tinggi, menjadi turun.
Kondisi agak berbeda dengan daerah tengah Kalteng. Boleh dikata, daerah tengah relatif aman karena tertolong oleh sektor-sektor yang ditopang oleh pemerintah dan populasi penduduk yang lebih banyak. Palangka Raya dan Kapuas, misalnya, karena menjadi daerah yang tidak terlalu mengandalkan komoditas mentah, terbantu oleh sektor konsumsi yang tinggi. Ini mendorong bergeraknya sektor perdagangan dan jasa.
Kemudian, daerah barat, Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat dan sekitarnya sedikit lebih beruntung lagi. Andalan daerah barat perkebunan sebenarnya juga terdampak dinamika ekonomi global. Namun sektor perkebunan sudah lebih dari satu dasawarsa dan masih bisa bertahan.
Di samping itu, pola perdagangan sawit dan batu bara berbeda. Batu bara lebih mengandalkan importir dominan. Begitu permintaan menurun, langsung terasa. Kalau sawit, selain karena permintaan ekspor juga ada permintaan dari pasar dalam negeri. Perimintaan dalam negeri terus mengalir untuk memenuhi kebutuhan sektor konsumsi.
Saat ini, kondisi harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit memang turun. Tapi, turunnya tidak seperti batu bara. Penurunan ini pun akan ada titik baliknya, pasti akan naik secara perlahan. Ini yang membuat sawit bisa bertahan. Kabupaten Kotawaringin Barat yang hampir 70 persen mengandalkan sawit masih tertolong oleh kondisi seperti itu.
Sawit memang agak berbeda dengan komoditas pertambangan. Sawit memiliki multiplier effect yang luas. Tambang mulplier effect-nya kecil. Dalam pertambangan, barang diangkut dan orang-orang yang terlibat sedikit. Masyarakat tidak banyak terlibat.
Sementara sawit, rantai ekonominya panjang. Ini karena produk turunannya banyak sehingga harus melibatkan pelaku ekonomi yang banyak pula. Dari petani sawit, buruh angkut, pengusaha angkut, hingga penyedia logistik untuk mereka.
Itulah yang membuat ekonomi wilayah barat, terutama Kobar, tertolong. Bisa memprediksi pertumbuhan ekonomi wilayah barat masih di atas rata-rata nasional, sekitar 5 persen.
Untuk 2016, juga masih menjanjikan. Sawit lebih banyak dikonsumsi. Barangnya akan selalu laku. Kebutuhan masyarakat untuk produk turunan sawit juga tinggi. Yang dikhawatirkan adalah dampak untuk sektor hulunya. Harga TBS di tingkat petani berkisar Rp600-700. Di tingkat plasma, antara Rp800-1.000. Ini memang berpengaruh pada daya beli petani. Namun, tetap masih ada sedikit keuntungan di sana. Harus diakui ekonomi memang jadi agak lesu, tapi tetap ada pergerakan.
Namun, penggerak ekonomi Kobar sebenarnya tidak hanya komoditas sawit. Ekonomi sawit telah menciptakan sektor konsumsi menjadi lebih baik, sehingga membuat sektor perdagangan dan jasa bisa diandalkan di daerah ini.
Melalui APBD, yang berasal dari DAU (dana alokasi umum), DAK (dana alokasi khusus), PAD (pendapatan asli daerah), pemerintah daerah seharusnya bisa mendorong anggarannya untuk menjadi stimulus penggerak ekonomi.
Sayangnya, stimulus itu sering baru bisa bergerak setelah satu semester tahun anggaran, yang puncaknya di bulan Oktober, November, Desember. Andai stimulus itu bisa digerakkan lebih awal, akan bisa menggerakkan ekonomi.
Optimisme ke depan
Ke depan ekonomi global mungkin akan lebih baik. The Fed (Bank Sentral Amerika) menaikkan suku bunga. Dolar akan pulang kandang. Dan situasi ini lebih menciptakan kepastian bagi pelaku ekonomi global. Sejumlah negara industri maju pun sudah pasti akan memulihkan ekonominya. Bakal bergeraknya kembali industri di negara maju sudah pasti membutuhkan topangan komoditas mentah, yang banyak tersedia dari negara seperti Indonesia. Ini adalah peluang.
Selain itu, pemerintah Indonesia sebenarnya sudah membuat kebijakan yang bagus agar kekayaan komoditasnya juga semakin berarti. Antara lain dibuktikan dengan kebijakan pengolahan komoditas tambang, melalui pembangunan smelter. Ke depan ini akan menciptakan nilai tambah bagi ekonomi nasional.
Namun, memang, untuk saat ini kebijakan itu seperti sulit dilaksanakan. Pertama, hal ini karena membangun smelter membutuhkan biaya yang besar. Selain itu, kebutuhan negara industri akan sumber komoditas sudah mendesak, harus terpenuhi setiap saat.
Untuk mendorong percepatan pembangunan smelter itu juga butuh kesiapan pemerintah. Pemerintah harus menyiapkan infrastruktur (jalan, listrik) dan perizinan, misalnya, untuk mendukung pihak swasta dalam menjalankan kebijakan pengolahan komoditas pertambangan itu.
Bila pemerintah mau membuka keran kelonggaran perihal ekspor tambang dan batu bara, katakanlah 50:50 untuk yang diekspor mentah atau melalui pengolahan, ekonomi akan tumbuh ke depannya. Selain itu, diperlukan stabilitas rupiah, setidaknya di angka Rp13 ribu-Rp14 ribu.
Selain itu, kebijakan infrastruktur kemaritiman harus dilaksanakan dengan penuh komitmen. Karena kebijakan ini akan mebuka akses daerah-daerah untuk menekan tingginya harga barang dan inflasi. Pada gilirannya, ini akan membuat kemampuan daya beli meningkat dan pengurangan pengangguran terbuka. Diperlukan terobosan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur ini.
Untuk wilayah Kobar, yang lebih digerakkan secara ‘alamiah’ oleh sektor swasta, sudah pasti perkembangannya akan ditentukan oleh sektor perdagangan dan jasa. Sementara sawit mungkin masih stagnan, pemerintah hendaknya turut mendorong dengan mempercepat penyerapan anggaran.
Pemerintah juga harus memprioritaskan perbaikan infrastruktur dari Kobar ke sejumlah daerah, yang juga ditopang dan menopang daerah ini, seperti Seruyan, Lamandau, Sukamara, dan daerah Manis Mata, Kalimantan Barat. Hasil pembangunan infrastruktur itu akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat. Selama ini ekonomi terpusat di Jawa karena akses di sana lebih terbuka.
Tantangan MEA
Yang tak boleh dilupakan adalah mulai diberlakukannya pasar bebas ASEAN atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). MEA harus disikapi sebagai peluang dan juga tantangan. Dengan terbukanya pasar ASEAN, kita bisa memasarkan produk ke negara Asia Tenggara lainnya. Namun sebaliknya, MEA juga bisa jadi ancaman. Tingginya populasi Indonesia sudah pasti akan dilihat sebagai pasar potensial bagi negara ASEAN lainnya.
Kita punya keunggulan komparatif untuk produk-produk tertentu. Namun, untuk bersaing dalam MEA, tak bisa tidak, masyarakat lokal harus meningkat kompetensinya. Caranya tentu saja memperbaiki kualitas pendidikan, mengikuti program pengembangan keterampilan, dan menumbuhkan semangat untuk memenangkan persaingan.
Sangat disayangkan memang, pemahaman tentang MEA di Indonesia tidak lebih baik dari negara tetangga. Sopir taksi di Bangkok saja, sudah sangat memahami arti persaingan dalam MEA. Tapi di Indonesia, membahas MEA masih terdengar tak lebih dari sekadar slogan semata.
Maslipansyah
Praktiksi Perbankan, Tinggal
di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah








