ORANG Dayak Ngaju membagi waktu satu tahun berdasarkan perubahan musim dan kegiatan yang dilakukan pada musim-musim itu.
Musim ke-10 dinamakan Pakanan Batu atau di Kalimantan Barat dikenal dengan istilah Gawai, yaitu masa yang menandakan bahwa musim menuai telah selesai.
Pada masa ini, para petani akan melakukan ritual syukur bumi kepada Ranying Mahatala Langit dan penghormatan kepada para leluhur.
Dalam pesta juga diadakan makan bersama dengan mengundang keluarga sekampung. Pada masa ini turut dibuat sesajen dan ritual. Masa ini biasanya jatuh pada November. “Namun untuk saat ini ritual Pakanan Batu di Kalteng sudah punah dan tidak pernah dilakukan lagi,” tutur Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kalteng Sabran Achmad.
Masa berikutnya disebut Musim Taliwun. Merupakan masa membersihkan alat-alat pertanian dan disimpan agar dapat digunakan kembali pada musim berladang selanjutnya.
Masa ini merupakan masa istirahat. Masa ini biasanya diisi dengan mengerjakan pekerjaan sampingan misalnya membuat anyaman atau kerajinan.
“Orang Dayak juga mengenal astronomi dalam penentuan waktu. Penentuan ini melihat bintang deret tiga di sabuk Orion yang dikenal dengan nama astronomi Mintaka, Alnitaka, dan Alnilam, yang dalam Bahasa Dayak disebut Bintang Patendu atau Bintang Luku atau Bintang Salampatei. Bintang ini diyakini dikuasai seorang Dewa Masa/Waktu yang disebut Manyamei Rajan Patendu.(TP/B-3)








