PEMERINTAH Kabupaten Kotawaringin Timur segera membangun pengelolaan sampah terpadu yang pertama dengan memadukan tempat pengelolaan sampah terpadu dengan bank sampah serta transfer depo sampah.
“Transfer depo ini mampu mengurangi angkutan sampah ke TPA karena benar-benar mampu memilah sampah yang bisa diolah kembali dan bisa dijual ke Bank Sampah,” ujar Kepala Dinas Perumahan Tata Kota dan Kebersihan (Dispertasih) Kotim, Juanda, di kantornya, Selasa (5/1/2016).
Sedang sisanya berupa sampah yang tidak bisa didaur ulang akan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sehingga mengurangi beban kerja TPA.
Transfer depo sampah ini akan dibangun di dua kecamatan yakni Kecamatan Baamang dan Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Masing-masing kecamatan akan dibangun dua depo. Dia mengaku anggaran untuk pembebasan lahan untuk itupun sudah disiapkan.
Namun, lanjutnya masyarakat juga bisa mengelola sampah di lingkungan tempat tinggal masing-masing dan menjualnya langsung ke bank sampah atau pengepul. Sehingga pengolahan sampah bernilai ekonomis bagi pemerintah daerah dan masyarakat.
Volume sampah naik
Mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kotim itu mengungkapkan, volume sampah di Kota Sampit semakin meningkat dengan kurangnya kesadaran masyarakat membuang sesuai waktu yang diperbolehkan.
Volume sampah di Kota Sampit per hari sebanyak 623 meter kubik. Namun kondisi itu bisa bertambah seiring dengan musim buah seperti saat ini.
Untuk membersihkan sampah di Kota Sampit, saat ini ada 400 orang petugas kebersihan dan 43 petugas pertamanan. Kerjasama juga dijalin dengan instansi lain seperti Badan Lingkungan Hidup dan Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah untuk program-program terkait kebersihan. “Kenapa produksi sampah melimpah karena pengelola sampah lingkungan seperti plastik tidak ada. Makanya setiap RT itu sudah harus ada pengelola sampah. Akhirnya nanti yang dibuang ke TPA itu sampah yg tidak bernilai ekonomis lagi.” (FI/B-7)


