Kebijakan pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) karena turunnya harga minyak dunia dinilai sebagai langkah positif. Hal itu disampaikan Ketua DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Jhon Krisli saat ditemui Borneonews di ruang kerjanya, Selasa (5/1/2015).

“Kebijakan tersebut paling ditunggu masyarakat, kami berharap penurunan harga BBM itu akan berimbas pada penguatan daya beli masyarakat yang selama 2015 melemah karena perlambatan ekonomi global,” kata Jhon.

Menurut Jhon, masyarakat di daerah tentu mendukung kebijakan penurunan harga BBM ini terutama untuk jenis premium dan solar. Pasalnya, dua jenis bahan bakar ini paling banyak digunakan masyarakat sehari-hari. “Kami juga meminta kepada Pemkab Kotim agar memperhatikan kebijakan penurunan harga BBM tersebut. Salah satunya dengan melakukan evaluasi terhadap harga eceran tertinggi (HET) dan tarif angkutan pascapenurunan harga BBM,” kata Politisi PDIP itu.

Jhon menyarankan agar Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kotim berkoordinasi dengan organisasi angkutan darat (Organda) dan segera membuat skema perhitungan tarif yang baru untuk angkutan umum. “Kalau perlu dibuat skema bakunya, sehingga setiap ada penaikan atau penurunan BBM, masalah tarif ini bisa ditetapkan secara otomatis,” saran dia.

Pasalnya, kata Jhon, penurunan harga BBM akan menjadi mubazir jika tarif angkutan umum dan harga bahan kebutuhan pokok tetap tinggi. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, setiap penurunan harga BBM tidak berdampak signifikan terhadap penurunan tarif angkutan umum dan harga sembako.

Hal senada disampaikan Ketua Komisi II DPRD Kotim Abdul Kadir. Menurut Kadir, Pemkab Kotim diharapkan bisa mengontrol tarif angkutan umum baik darat maupun air dan juga harga sembako di pasaran. Sehingga penurunan harga BBM ini benar-benar berdampak pada perekonomian masyarakat. (RF/B-8)