MUARA TEWEH, ibukota Kabupa­ten Barito Utara (Barut) kini memiliki dua buah taman hijau yang diberi nama Taman Bengaris dan Taman Pasar PBB. Selain itu, pemerintahan setempat juga mengelola Bank Sampah, dan unit pe­ngelolaan sampah skala kota.

Sejumlah fasilitas tersebut baru saja diresmikan Bupati Barut Nadalsyah, Senin (4/1/2016) lalu. “Taman Benga­ris dan Taman Pasar PBB merupakan perwujudan program pengendalian dampak perubahan iklim. Pembuatan taman hijau dilakukan untuk memperluas ruang terbuka hijau (RTH) yang berfungsi menangkap gas CO2 yang merupakan salah satu gas rumah kaca (GRK), dan sekaligus berfungsi sebagai paru-paru kota,” kata Nadalsyah ketika meresmikan taman itu di halaman Badan Lingku­ngan Hidup (BLH) Barut.

Menurut Nadalsyah, pembuatan taman tersebut selain mendorong penurunan emisi GRK, juga membantu pencadangan sumber daya alam hayati (plasma nutfah) dalam rangka penyelamatan dari ancaman yang tinggi terhadap kelestarian berbagai jenis tanaman lokal daerah.

Bank Sampah dan unit pengelolaan persampahan skala kota, imbuhnya, merupakan perwujudan program pe­ningkatan kinerja penge­lolaan persampahan. Keberadaan dua unit pengelolaan sampah itu secara terintegrasi dilaksanakan dengan mengacu pada penge­lolaan sampah dengan prinsip 3R (reduce, recycle, dan reuse).

“Bank Sampah adalah tempat untuk mengumpulkan berbagai macam sampah yang telah dipisah-pisahkan sesuai dengan jenisnya untuk disetorkan ke tempat bengkel kerja lingkungan atau yang lebih akrabnya disebut bank sampah, hasil setoran sampah akan ditabung dan dapat diambil atau dicairkan dalam jangka waktu tertentu dengan mengadopsi prinsip perbankan, dan penyetor sampah akan mendapat buku tabungan,” terangnya.

Ditambahkannya, Bank Sampah merupakan sebuah sistem pengelolaan sampah berbasis rumah tangga, dengan memberikan imbalan berupa uang tunai ataupun voucher kepada warga yang memilah dan menyetorkan sejumlah sampah. (DN/B-5)