BORNEONEWS, Palangka Raya - Keramat Brohong, salah satu pendiri Kota Ampah. Brohong yang juga adalah leluhur Dayak Luwangan memang nama yang kurang dikenal karena meskipun Kota Ampah salah satu Kota yang ramai di Barito Timur, belum banyak yang tahu kisah dan sejarah berdirinya Kota Ampah itu sendiri yang seharusnya melekat pada Kisah Keramat Brohong ini.
Dikutip dari Folks Of Dayak, komunitas anak-anak muda pemerhati dan pelestari budaya adat Dayak ini mengisahkan perjalanan mereka mengangkat kisah dan ritual Keramat Berohong. Berikut ceritanya dari sudut pandang Folks of Dayak.
Teman-teman folks Palangka Raya terlebih dahulu pergi untuk menyampaikan dukungan dan bantuan yang kami kumpulkan bersama. Kemudian kami dari Kalimantan Timur berencana akan pergi sejumlah 8 orang.
Ada cerita menarik sebelum kami pergi ini. Awalnya kami sudah mendapatkan deal penyewaan mobil. Namun pas hari H kami mau berangkat, tiba-tiba penyewaan mobil itu mengatakan tidak ada mobil yang available.
Hari sudah malam dan kami coba mencari kesana kemari pun belum menemukan, karena memang saat itu malam Minggu.
Maka kami pun mencoba menyampaikan niat kami lagi kepada Brohong dengan membakarkan dupa, bahwa kami rindu untuk pergi kesana untuk mengangkat cerita dan kehebatan Brohong, mohon doakan kami untuk bisa mendapatkan mobil yang mau disewakan.
--page
Kami pun berkontak dengan kak Mei Sengoq di Balikpapan untuk ikut bantu mencari penyewaan Mobil, ajaibnya tidak lama kami bisa mendapatkan mobil - sebab tiba-tiba ada mobil yang dikembalikan. Lalu kami pergi pada Minggu pagi itu, dari berbagai ragam sub Dayak, ada Dayak Wehea, Paser, Deah, Ngaju, Kutai, dan Banjar.
Kamipun bisa tiba di Kota Ampah dengan selamat dan aman.
Kami disambut dengan hangat oleh kawan kami Rory yang adalah turunan ke-9 dari Berohong, kami semua menginap di rumah beliau.
Malam itu kami diberi kesempatan untuk melihat langsung pusaka-pusaka peninggalan Brohong berupa Perisai dan Mandau Batu milik Brohong, juga kami berterima kasih juga bahwa Datu Berohong ikut mendoakan agar kami bisa pergi ke tempat itu. Kami meminta izin kepada panitia perayaan HUT Brohong ini untuk menyajikan tarian dan pertunjukan kepada semua masyarakat yang hadir.
Esok paginya pada perayaan HUT Brohong ini, kami semua siap dengan pakaian adat Dayak-yang menarik adalah kami juga membawa budaya Dayak Wehea. Pada acara pembukaan kami memperkenalkan diri kami masing-masing dan kami menampilkan sebuah tarian tunggal Dayak Wehea juga Kuntau Dayak Ngaju. Sambutan warga sangat meriah melihat ragam budaya Dayak ini yang patutnya kita syukuri.
Pagi itu adalah ritual membunuh hewan-hewan kurban yang dibawakan oleh orang-orang yang niat hajatnya terkabulkan. Setelah dibacakan doa doa oleh pemangku adat dan agama Hindu Kaharingan. Maka kurban-kurban ini disembelihkan semua berupa ayam, babi dan kambing.
Suasana begitu hiruk pikuk ketika prosesi penyembelihan ini. Hewan-hewan ini yang nanti akan dimasak untuk digunakan makan bersama esok harinya.
Malam harinya dilakukan ritual Belian Setangkai, yaitu belian khusus yang untuk acara keramat Brohong ini. Belian ini tidak menggunakan musik seperti belian Bawo dan lainnya, melainkan memenangkan mantera yang dilakukan oleh 8 belian laki-laki dan 9 belian wanita.
Pada belian setangkai ini dimulai dengan prosesi tanya jawab antara panitia dengan para belian tentang asal usul beliang setangkai dan juga kelengkapan persyaratan ritual apakah sudah lengkap atau tidak. Kenapa disebut Belian Setangkai adalah berasal dari tempat goa Kasabi (Berohong) memperoleh kesaktiannya.
Memang pertama dimulai dengan membangunkan semangat barang-barang perangkat ritual seperti minyak, beras, sipa dll dengan mengisahkan asal usulnya. Kemudian mereka akan "menjemput" Kasabi dan cucunya untuk hadir dalam acara ini, kemudian menyajikan makanan-makanan yang sudah disiapkan, setelah itu mereka akan mengantarkan pulang kembali Kasabi dan cucunya ini ke Liang Setangkai. Prosesi ritual ini dilakukan dari malam hingga pagi, ajaibnya semua text memang ini harus dihafalkan. Itu sebab tidak banyak generasi muda yang menguasai ritual Belian Setangkai ini.
Selesai ritual Belian Setangkai pagi itu dilakukan jamuan makan bersama semua warga dan tamu undangan. Hal yang menarik lainnya adalah ditempat itu disediakan tempat khusus bagi warga yang beragama Islam untuk makan supaya makanan yang disajikan adalah makanan halal. Inilah bentuk toleransi yang tinggi dari Dayak Luwangan yang mesti kita contoh.
Selesai acara makan-makan ini kami pun semua pamit dengan warga dan panitia. Kami begitu merasakan sambutan yang hangat, ritual yang sakral dan tidak kapitalis seperti yang sudah banyak dilakukan di tempat lain, dimana tujuannya adalah untuk mencari uang. Tapi disini kami merasakan kesahajaan dan ketulusan yang luar biasa.
Kedekatan antara setiap pemeluk agama entah itu Kristen, Islam dan Hindu Kaharingan. Salah satu perkataan pemangku adat yang juga keturunan ke-8 Berohong disana adalah "kita ini mau apapun agamanya, kalau bicara darah ya tetap dayak. agama itu pilihan" jadi tidak ada lagi istilah siapa Dayak sah atau tidak.
Semoga ritual ini tetap lestari dan nama Brohong sebagai pendiri Ampah bisa lebih dikenal dan nama Pasar Ampah yang tepat di seberang keramat Brohong bisa diganti namanya menjadi Pasar Brohong, seperti pasar di Kota Tamiang Layang yang menggunakan nama tokoh. Sebab dahulu nama sekolah di sana juga disebut SMP Brohong namun sekarang sudah diubah. (TESTI PRISCILLA/B-11)









