PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Barasak adalah salah satu kampung yang berada di Desa Pilang, Kabupaten Pulang Pisau. Pada zaman dahulu kala pernah terjadi suatu peristiwa berdarah yang dikenal sebagai "Amuk Barasak", kisah ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita orang Dayak, bagaimana satu kampung bisa saling berbunuhan akibat kesalahpahaman.

Seperti dikutip dari Folks Of Dayak, komunitas anak-anak muda pemerhati dan pelestari budaya adat Dayak, waktu itu akan dilakukan acara Pesta Tiwah di Kampung Barasak ini, suatu acara yang sangat besar bagi orang Dayak Ngaju.

Semua orang tentu akan terlibat dalam persiapan acara ini, masing-masing memberi sumbangan baik berupa hewan kurban, beras, kopi dan juga tenaga untuk membangun balai tiwahnya.

Hari pertama acara Tiwah, semua orang bersukacita, sambil makan dan minum tuak banyak yang sudah mabuk, juga sebagaimana kebiasaan, pada acara Tiwah juga diselenggarakan acara sabung ayam.

Tersebutlah tiga orang bersaudara bernama Nyalung, Rawing dan Jagau. Mereka bertiga pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengadu ayam Jago mereka. Dalam bahasa Dayak Ngaju, ayam jago disebut dengan Jagau, memang sama seperti nama salah satu dari tiga bersaudara tersebut.

Ayam ketiga anak muda ini dilengkapi dengan taji besi, sedang ayah mereka sedang asik minum tuak hingga mabuk.

--page

Waktu itu ayam Nyalung dan Rawing saling beradu, anak-anak pun bersorak girang memberi semangat, dan terjadilah sabung ayam yang sengit, hingga taji ayam Rawing mengenai leher ayam Nyalung, hingga akhirnya mati.

Anak-anak yang melihat itupun kembali bersorak-sorak dan meneriakan bahwa "Jagau Nyalong matei... Jagau Nyalong matei". Mmaksudnya adalah ayam jago yang dimiliki Nyalong mati.

Tetapi sang ayah yang sudah mabuk tuak, menjadi marah dan mengira bahwa kedua anaknya, Jagau dan Nyalong telah mati dibunuh.
Ia pun segera menghunuskan mandaunya dan membacok siapa saja yang ditemuinya, melihat hal itu terjadilah saling balas dan serang, hingga tidak diketahui lagi siapa lawan dan siapa kawan. 

Pemimpin acara Tiwah atau disebut "Bakas Tiwah" berusaha melerai perkelahian itu, tapi apa dinyana, semua orang sudah termakan emosi dan dipengaruhi oleh alcohol, ia tidak mampu melerai bahkan hampir menjadi korban amuk massa tadi.

Pesta yang harusnya gembira berubah menjadi ajang pertumpahan darah dan begitu banyak orang kampung Barasak yang mati sia-sia oleh karena kesalahpahaman tadi. Hanya tersisa Bakas Tiwah dan beberapa orang yang selamat dari amuk masa itu, mereka pun akhirnya menguburkan mayat yang bergelimpangan tadi. 

Lambat laun kampung Barasak itu ditinggalkan masyarakatnya karena tidak tahan menahan rasa pedih dan rasa malu akibat kejadian itu. Desa itu lambat laun berubah menjadi Desa yang angker, dan orang sering mendengar suara tangis dan ratapan dari arwah yang meninggal tadi.

Inilah yang harus menjadi pelajaran bagi kita semua agar tidak mudah termakan informasi yang belum jelas sehingga langsung terbakar emosi dan menggerakan massa untuk mempersekusi orang lain yang pada akhirnya hanya sesama Dayak yang saling bertikai. 

Konon akibat kejadian inilah mengapa masyarakat Dayak Ngaju di sepanjang jalur Sungai Dadahup hingga Mangkatip tidak bisa melakukan acara Tiwah lagi, tetapi melakukan ritual "Manenga Lewu" atau kadang disebut "Tiwah Benteng". (TESTI PRISCILLA/B-11)