BORNEONEWS, Palangka Raya - Sejumlah warga Kota Palangka Raya mengeluhkan tingginya harga kebutuhan pokok di pasaran yang parahnya, juga dibarengi dengan langkanya BBM jenis pertalite.
"Pagi ini saja saya sudah keliling di tiga SPBU dan belum dapat pertalite, informasinya masih dalam pengiriman semua. Sementara di motor, minyaknya sudah tinggal sedikit. Terpaksa beli yang eceran dulu di pinggir jalan. Itupun harganya sudah naik jadi Rp11.000, biasanya hanya Rp10.000," tutur Giman, salah seorang warga yang berprofesi sebagai tukang sayur keliling, Minggu, 12 Juni 2022.
Menurut Giman yang sehari-hari berdagang di sekitaran Jalan Rajawali, Palangka Raya, hal ini juga semakin menyulitkan profesinya mengingat harga kebutuhan pokok serta syur mayur di pasaran ikut mengalami kenaikan harga.
"Sudah pertalite susah dapatnya, kalaupun dapat, antrenya panjang, harga di pasar juga sudah mahal-mahal sekarang. Daging ayam ras saja hari ini sudah Rp52.000 harganya," tuturnya. Padahal jika sedang dalam kondisi normal harga daging ayam hanya kisaran Rp30.000-Rp35.000.
"Mungkin efek pertalite langka jadi harga-harga naik. Tomat lho, Rp27.000 per kilogram. Bagaimana kita mau jual kalau ada yang mau beli Rp2.000 atau Rp1.000 misalnya. Apalagi profesi kita pedagang sayur keliling, pembeli itu biasanya beli hanya sedikit-sedikit. Bawang merah sebungkus, kubis Rp2.000, cabe minta Rp2.000. Bagaimana kita mau jual, sekarang saja cabe harganya Rp120.000 tadi, kubis Rp20.000 padahal biasanya hanya Rp10.000. Terpaksa saya beli juga hanya sedikit-sedikit, takut nggak laku, saya yang rugi belanjaan saya busuk," keluhnya.
--page
Sebelumnya Sekretaris Komisi A DPRD Palangka Raya, Noorkhalis Ridha memberi pertimbangan jika memang terjadi pengurangan kuota BBM jenis pertalite untuk Kota Cantik. Hal ini karena beberapa waktu belakangan BBM pertalite mengalami kelangkaan yang disebut Ridha kemungkinan karena ada pengurangan kuota.
"Tidak semua masyarakat mampu untuk beralih ke BBM jenis Pertamax, apalagi pertamax baru saja mengalami kenaikan harga," kata Ridha baru-baru ini. Artinya ada selisih yang cukup besar antara harga 1 liter pertalite dan 1 liter pertamax.
"Kalau masyarakat terbiasa mengisi penuh pertalite dan kemudian dipaksa untuk beralih ke pertamax, maka selisih tersebut semakin besar, ini tentu berdampak ke pendapatan masyarakat," tegas Politisi PAN ini. (TESTI PRISCILLA/B-11)









