BORNEONEWS, Palangka Raya - Di lokasi Bukit Tunggal, di Desa Tuwung ini ada dua kejadian ajaib. Yang pertama melibatkan mahluk alam bawah yaitu kisah Legenda Bukit Tunggal dengan tokoh Bawi Kuwu dan Raja Buaya Tumbang Rihat. Sementara kisah kedua melibatkan tokoh yang digambarkan bagaikan alien yang mengendarai ufo, yakni mengenai kisah Sahawung, Dewa yang menculik Bawi Kuwu.
Dilansir dari Folks Of Dayak, komunitas anak-anak muda pemerhati dan pelestari budaya adat Dayak, dikisahkan bahwa dahulu kala Bukit Tunggal ini merupakan sebuah pemukiman namun sekarang sudah menjadi kaleka.
Pada zaman dahulu di kampung ini terdapat seorang wanita bernama Bawi Kuwu yang sangat cantik dan ia telah selesai dipingit dan telah menikah. Namun tarung cerita kecantikannya ini bahkan sampai ke alam para Dewa, sehingga turunlah Sahawung dengan menggunakan kendaraan "Palangka Bulau".
Palangka Bulau ini digambarkan masyarakat Dayak dalam kisah tersebut sebagai kendaraan yang bentuknya menyerupai piring dan mengeluarkan bersinar keemasan, seolah-olah itu adalah ufo.
Sahawung datang ke bumi dan melihat bahwa benar lah ternyata Bawi Kuwu ini sangat cantik jelita. Pada saat itu warga sedang memasuki masa manugal atau menanam padi sehingga Bawi Kuwu tinggal seorang diri di rumah. Maka Sahawung membawa Bawi Kuwu dan menculiknya ke alam atas.
Seminggu kemudian Sahawung pun turun kembali dan berjumpa dengan ayah dan suami Bawi Kuwu. Sahawung berjanji akan kembali untuk membayarkan semua denda adat yang harus ia bayarkan karena telah merebut istri orang lain. Namun ia berpesan bahwa apabila mereka mendengarkan suara ramai janganlah mencoba melihatnya, tetapi tunggulah sampai suara itu turun ke atas tanah.
Maka sesuai janji Sahawung itu, ia turun membawa segala macam harta benda dan hewan untuk membayarkan denda dan jalan adat, ia menaruhnya di dalam kendaraan "Palangka Bulau"nya. Namun ibu dari Bawi Kuwu sangat penasaran untuk melihat suara yang sangat ramai, maka ia pun mengintip dari jendela. Maka terhentilah Palangka Bulau Sahawung di atas tanah dan tidak bisa mendarat.
--page
Ia pun menurunkan Hejan atau tangga dari kendaraannya itu dan menurunkan semua macam harta benda dan hewan yang digunakan untuk membayarkan denda dan jalan adatnya.
Beberapa waktu berlalu, banyak dari warga yang tidak dapat tahan karena Sahawung yang tinggal bersama mereka, sebab begitu banyak pantangan. Maka dengan kekuasaannya Sahawung menurunkan lagi Palangka Bulau dan Ia kembali ke alam atas bersama Bawi Kuwu.
Palangka Bulau yang tertahan di tengah-tengah antara langit dan bumi itu pun ditinggalkan. Pada zaman dahulu Palangka Bulau itu tetap melayang sehingga baik hewan dan ternak bisa saja bernaung dan melalui di bawahnya.
Namun tahun berganti tahun, lama kelamaan Palangka Bulau pun semakin turun dan menjadi bukit tunggal. Makanya sebutan yang benar menurut Basir Betel, nama bukit ini adalah Bukit Palangka.
Namun karena sejak jaman dahulu orang terbiasa menyebutnya Bukit Tunggal-karena ia satu-satunya gundukan tinggi atau bukit di sekitar dataran rendah di sekitarnya, maka sebutan Bukit Tunggal pun melekat hingga kini. (TESTI PRISCILLA/B-6)









