Selama 2015 lalu, semua kelompok pengeluaran mengalami inflasi. Dengan  penyumbang inflasi tahun kalender tertinggi terjadi pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau, yakni mencapai 9,81%.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sampit Heri mengungkapkan, memang untuk semua kelompok pengeluaran mengalami inflasi, namun inflasi pada 2015 lalu itu merupakan yang terendah dibandingkan pada dua tahun sebelumnya, yang mana hanya mencapai 5,72%.

“Pada 2014 inflasi mencapai 7,90% dan 2013 mencapai 7,25%,” ujar Heri, Rabu (6/1/2016).

Kelompok bahan makanan juga merupakan penyumbang inflasi tertinggi kedua di Kotim yang mencapai 8,60%. Sementara yang terendah adalah kelompk transportasi, komunikasi dan jasa keuangan yakni hanya 0,70%.

Sedangkan untuk inflasi bulan Desember 2015 lebih melambat dibandingkan pada Desember 2014 lalu, yakni hanya 1,34%
dibandingkan sebelumnya yang mencapai 2,01%.

“Adanya inflasi pada Desember 2015 itu karena bahan makanan seperti daging ayam ras, bawang merah, rokok kretek, telur ayam ras, ikan selar, beras, angkutan udara, cabai merah, ikan gabus, ikan tongkol, mengalami kenaikan yang cukup tinggi,” lanjut Heri.

Sementara itu, untuk komuditas yang mengalami penurunan harga dengan andil deflasi tertinggi antara lain, kacang panggang, kangkung, ketimun, daun singkong, terong panjang, udang basah, bayam, oyong, jagung muda dan pare.

Sedangkan dari sembilan kota yang menghitung Indek Harga Konsumen (IHK) Kotim merupakan yang tertinggi inflasinya, yakni 1,34%, disusul Singkawang 1,32%, Samarinda 1,30%, Banjarmasin 1,27%, Tarakan 0,97%, Pontianak 0,96%, Tanjung 0,89, Palangka Raya, 0,88%, dan yang paling rendah adalah Balikpapan 0,79%. (MH/B-12)