BORNEONEWS, Palangka Raya - Daerah Landak, Kalimantan Barat memang terkenal sebagai Kota Intan, selain Martapura di Kalimantan Selatan dari jaman baharinya. Salah satu pusaka yang sangat terkenal dari Kerajaan Landak ini adalah intan kobi, bahkan gara gara intan ini menyulut terjadinya beberapa peperangan.
Seperti dikutip dari Folks Of Dayak, komunitas anak-anak muda pemerhati dan pelestari budaya adat Dayak, konon intan ini diperoleh saat orang memasang bubu ikan.
Pada 1550, Kerajaan Tanjungpura diperintah oleh Panembahan Giri Kesuma yang dilantik oleh Raja Mekah. Sebagai bukti penobatannya, raja Mekah memberikan sebuah cincin zamrud dan sebuah kitab suci Alquran.
Pada masa pemerintahannya inilah Tanjungpura mencapai kegemilangannya, karena ramainya jalur perdagangan ke pelabuhan Sukadana untuk mengangkut hasil bumi seperti sahang, hasil hutan dan intan.
Panembahan Giri Kesuma ini menikah dengan Putri Raja Landak yaitu Ratu Mas Jaintan sehingga terjalinlah suatu hubungan bilateral yang erat antara Kerajaan Matan dan Kerajaan Landak.
Intan Kobi yang menjadi pusaka Kerajaan ini kemudian menjadi tersohor, sehingga membuat VOC pada 1604 mendatangi Kerajaan Matan untuk melihat dan membeli intan kobi ini, Inggris pun tidak ketinggalan untuk mendirikan kantor dagangnya di Matan.
--page
Namun di tanah Jawa, Sultan Agung dari Kerajaan Mataram memiliki ambisi untuk menyatukan Nusantara sekaligus menghalau kolonial Belanda.
Maka Sultan Agung pada tahun 1622 mengirimkan pasukan militernya untuk menghancurkan Kerajaan Matan. Pasukan Mataram ini di bawah pimpinan Bupati Kendal Adipati Bahurekso.
Tujuan penaklukan ini adalah untuk menghancurkan sekutu Surabaya dan merebut intan kobi. Surabaya adalah saingan sekaligus tandingan yang tangguh bagi Kerajaan Mataram. Dan Kerajaan Matan merupakan gudang logistik yang setiap saatnya selalu menyediakan kebutuhan pangan bagi Surabaya.
Mataram mengirimkan 80.000 pasukan, pada penyerbuan pertama mereka tidak berhasil namun pada penyerangan kedua, Kerajaan Mataram berhasil menaklukan Sukadana dan menawan Ratu Mas Jaintan dan diasingkan ke Jawa di suatu daerah yang disebut pinggit, hingga akhir hayatnya.
Setelah kematian Ratu Mas Jaintan, Sultan Agung mengembalikan jenazah sang ratu untuk dimakamkan di Sukadana dan intan kobi dikembalikan sehingga namanya diubah menjadi Intan Danau Raja.
Pada 1700 dalam masa Pemerintahan Sultan Zainudin terjadilah perselisihan antara Kerajaan Landak dan Sukadana. Kerajaan Landak menuntut untuk dikembalikannya intan kobi. Sehingga terjadilah perang saudara antara Tanjungpura dan Kerajaan Landak. tanjungpura dengan sokongan Inggris berhasil mengalahkan perlawanan Landak, Raja Landak Pangeran Anom Jaya Kesuma beserta Ratu Nyai Mas Nawi berhasil ditawan.
Maka sebagai serangan balasan, Kerajaan Landak meminta bantuan Kerajaan Banten, maka puteri pangeran Anom, Puteri Ratu Mas Adi yang memimpin utusan ke Kerajaan Banten, ia menyamar sebagai seorang laki-laki dengan nama samaran Raden Panji Wijaya.
Banten akhirnya bersedia membantu Kerajaan Landak, dengan dibantu oleh Belanda - sebab Belanda juga hendak menghancurkan pengaruh Inggris di Landak.
Pasukan Banten dipimpin oleh Raden Adipati Nata Kesuma yang nanti kemudian menikah dengan Ratu Mas Adi. Serangan balasan ini berhasil menghancurkan kekuatan Tanjungpura dan Inggris sehingga membuat Raja Tanjungpura mengungsi ke Kotawaringin di Kalimantan Tengah.
Akibat intan Kobi ini banyak sekali peperangan dan korban yang berjatuhan. Maka akhirnya terjadilah perdamaian antara Kerajaan Landak dan Kerajaan Tanjungpura.
Kerajaan Tanjungpura menyerahkan dua buah meriam sebagai tanda perdamaian, yaitu meriam Kyai Sumi dan Ratu Desturi. (TESTI PRISCILLA/B-11)









