PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Cakra Wirawan Emil Bangkan, seorang penggagas Folks Of Dayak atau FoD, komunitas anak-anak muda pemerhati dan pelestari budaya adat Dayak, kisah Mambang dari Manen Paduran yang mengalahkan Raja Madura berdasarkan penelusuran dan wawancara yang pernah ia lakukan beberapa tahun lalu, adalah cerita yang dibawa oleh orang-orang Madura yang bertransmigrasi ke Kalimantan, mungkin sekitar tahun 60-an.

"Cerita ini didukung dengan adanya kesamaan-kesamaan fonetis dan kemungkinan asal usulnya. Menjawab rasa penasaran akan cerita ini, maka saya pun pergi ke Pulau Madura untuk mencari makam yang katanya adalah Makam Datu Dayak ini," kata Cakra seperti dikutip dari Folks Of Dayak.

Konon Makam ini ada di bibir pantai Nepah, di Sampang Madura. Perjalanan dari kota Surabaya memakan waktu 2 jam, sambil bertanya-tanya kepada penduduk sekitar dimanakah lokasi Makam Keramat yang juga dikenal sebagai Datu dari Kalimantan. 

Akhirnya mereka bisa menemukan lokasinya. Cakra tidak mau sembarangan masuk dan menyimpulkan segala sesuatu, maka mereka meminta juru kunci untuk menemani dan menjelaskan sedikit mengenai makam ini.

Pak Busri, laki sepuh yang menemani perjalanan tim FoD, memasuki areal makam dan disambut begitu banyak monyet yang menjaga.

"Saya bertanya mengenai Mambang ini. Pak Busri tidak tahu tokoh yang bernama Mambang dan bukan hanya Pak Busri yang saya tanyakan tetapi beberapa warga yang ada di sekitar Pantai Nepah. Mereka mengenal tokoh yang ada di makam tersebut sebagai Joko Raden Segoro namun hampir Sebagian besar orang yang saya tanyakan mengakui bahwa Raden Segoro ini berasal dari Kalimantan, walau ada juga yang membantah dengan mengatakan asalnya dari tanah Jawa," tuturnya.

--page

Dari gapura menuju kompleks makam berjarak sekitar 500 meter. Ternyata kompleks ini banyak juga diziarahi oleh orang-orang Madura. Bahkan jika dilihat rumah warga di sekitaran pantai ini sangat besar dan mewah, namun kosong karena banyak yang kerja di luar daerah atau luar negeri. 

Menurut seorang warga ini semua adalah berkah dari Raden Segoro ini yang juga dikenal sebagai tokoh sakti.

Sesampainya di kompleks Makam, dapat dilihat semacam gundukan batu membentuk lingkaran dan pusaranya sebuah pohon besar yang diikat kain merah, putih dan kuning. 

"Saya bertanya kepada pak Busri, benarkah dahulu keturunan Raden Segoro ini memiliki tanda beranting dan bergelang kaki, beliau pun mengiyakannya dan bahkan liang tempat perkelahian Raden Segoro dengan musuhnya itu masih ada didaerah Bering Koning. Sayang karena waktu terbatas menjelang pelarangan mudik kami tidak sempat kesana," katanya lagi.

Cakra merangkum sedikit kisah versi yang ada di Pulau Madura mengenai tokoh Raden Segoro ini.

Zaman dahulu disebuah kerajaan yang bernama Medang Kemulan yang dipimpin oleh seorang Raja yang bernama Prabu Sanghyang , ia memiliki seorang puteri yang cantik Jelita bernama Dewi Ratna Rorogung – (mungkin karena kesamaan Fonetis dengan Manen Paduran lah yang membuat orang menyamakannya). 

Karena kecantikan sang Puteri ini, ia banyak dipinang oleh laki-laki, tetapi ia tidak mau. Suatu Ketika sang puteri diketahui hamil tanpa ada pernikahan. Mengetahui hal ini sang ayah murka, dan memerintahkan agar puetri dihukum mati. 

Raja memerintahkan Patih Pranggulang untuk membunuhnya di tengah hutan. Saat Patih Pranggulang menebaskan pedangnya ke leher sang puteri,pedang itu selalu terpental sebanyak tiga kali. Melihat keanehan ini, maka Patih Pranggulang berniat menyelamatkannya.

Patih kemudian membuat sebuah rakit atau “gitek” dalam Bahasa Maduranya, ia meminta sang Putri untuk naik keatas gitek tersebut dan kemudian ia mendorongnya menuju ke tengah laut kearah utara- (itu juga mungkin yang menyebabkan konsep arah rumah tradisional  di daerah ini mengarah Utara – Selatan, sedikit teori asumsi pribadi, utara pulau Madura adalah Kalimantan – dengan orientasi ini menggambarkan muasalnya). 

Sang putri pun terkatung-katung di laut dan kemudian terdampar di Pulau Madura ini, ada versi yang mengatakan terdampar di Pantai Nepah ini ada juga yang mengatakan di Gunung Geger, tetapi karena rakit maka lebih masuk akal ia terdampar di pinggir pantai. 

Singkat kisah Sang Puteri ini kemudian melahirkan seorang Putra yang ia namai Raden Segoro, nah suatu ketika di pinggir pantai munculah Naga dan Raden Segoro ketika kanak-kanak berhasil menangkapnya dan Naga ini berubah menjadi sebuah senjata tombak.

--page

Waktu berlalu kemudian negeri Medang Kamulan diserang oleh musuh secara bertubi-tubi, Prabu Shangyang mendapat petunjuk bahwa Raden Segorolah yang bisa mengalahkan serangan musuh ini, lalu sang Prabu mengirim utusannya untuk meminta bantuan kepada Raden Segoro dan Ibunya.

Singkat kisah, peperangan berhasil dimenangkan. Setelah Raden Segoro Kembali ke pulau Madura, ia pun bertanya kepada ibunya tentang siapakah ayah kandungnya, akhirnya ibunya menjawab bahwa ayahnya adalah seorang siluman sakti. 

Namun anak buah Raden Segoro ini menguping pembicaraan rahasia ini. Maka Raden Segoro menjadi murka dan mengutuk anak buahnya itu menjadi kera – itulah konon kera-kera yang menjaga pantai Nepah ini.

"Ada perbedaan versi cerita disini, namun tentu ada juga benang merahnya. Misal soal fonetic koresponden antara Medang Kamulan dan Manen Paduran. 

Tokoh yang lari menyeberangi lautan karena konflik keluarga versi Dayak isteri Mambang dituduh sebagai "hantuen" sedangkan versi Madura sang ibu hamil diluar pernikahan. 

Salah satu orang tua adalah siluman dimana dalam versi Dayak sang ibu lah "Bawin Djata" atau makhluk air sedangkan versi Madura sang ayahlah yang justru siluman," bebernya.

Lalu tokoh sentral versi Dayak bernama Mambang ini adalah suami dari Bawin Djata dan versi Madura justru anaknyalah yang menjadi tokoh sentral. Kedua tokoh sama-sama mendapatkan senjata pusaka dari makhluk air berupa mata tombak atau dohong. 

Adanya pertempuran antara tokoh sentral dengan musuh, dalam versi Madura adalah musuh dari negeri lain, sedangkan versi Dayak adalah Penguasa Madura yang kejam.

"Ada kesamaan tradisi menggunakan anting dan gelang kaki bagi keturunannya. Orientasi rumah tradisional yang mengarah Utara-Selatan
Masih adanya lokasi liang pertarungan di Pering Koning di dekat Pantai Nepah ini. Apakah kedua tokoh dalam kedua versi ini adalah tokoh yang sama, kita tidak tahu. Intinya kita harus membuka diri terhadap semua versi folklore, dan jangan menganggap bahwa inilah versi yang paling benar, karena folklore tentu sangat suka kita kaji dan buktikan secara kaidah ilmiah," jelasnya lagi. (TESTI PRISCILLA/B-11)