PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Jejak sejarah peninggalan pelaut ulung dari Tiongkok bernama Laksamana Ceng Ho atau nama aslinya Zeng He di Surabaya menunjukkan bahwa ia melakukan ekspedisinya ke Nusantara antara tahun 1405 hingga 1433.

Seperti dikutip dari Folks Of Dayak, komunitas anak-anak muda pemerhati dan pelestari budaya adat Dayak, Cheng Ho adalah seorang kasim yang berasal dari Yunnan dan menjadi orang kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok yang berkuasa tahun 1403-1424, kaisar ketiga dari Dinasti Ming. 

Oleh sebab itu gelarnya juga adalah Sam Poo Tay Djien atau Tuan Besar Kasim Cheng Ho. Ceng Ho ini diyakini beragama Islam dan ialah juga membawa syiar Islam ke Nusantara.

Ada beberapa yang mengaitkan Ceng Ho atau Sam Poo Kong ini sebagai tokoh kisah tathum (epos) Dayak Ot Danum yang disebut Sempung atau Sam Hau Fung (Amai Bungai) ayah Bungai. 

Sebab di dalam cerita tathum juga disebutkan Lambung, ayah Sempung pergi ke pulau Mako yang diyakini ada di Tiongkok karena Mako adalah sebutan lain dari Dewi Laut Ma Zu atau Maco.

--page

Di situ disebutkan bahwa Lambung bertemu isterinya yang bernama Kameluh Petak Bulau dan mereka memiliki lima orang anak yaitu Sempung atau Amai Bungai, Serupoi atau Amai Tambun, Nyai Etan, Nyai Rambu, dan Kumpang.

Kemudian setelah beberapa puluh tahun kemudian mereka kembali pulang ke Kalimantan. Kecuali Sempung yang belakangan menyusul karena ia ingin untuk belajar berbagai macam ilmu di sana. 

Dari seni bela diri, ilmu berperang, masalah mesiu, pertanian, perkebunan, pertukangan, perbintangan, pelayaran, perniagaan sampai bagaimana cara membuat tempayan, menambang emas dsb. 

Sesudah cukup rasanya semua itu, ia pun lalu pulang mendapatkan keluarganya melalui Sarawak sampai ke hulu Kahayan - mungkin ini yang menyebabkan ada kesamaan nama Tumbang Miri di Hulu kahayan dan Miri di Sarawak. 

Sempung kemudian menikah dengan seorang gadis Dayak bernama Nyai Endas. Bisa jadi memang sempung ini aslinya orang Tiongkok totok yang menikah dengan gadis Dayak.

Di Klenteng Mbah Ratu di Surabaya ini terdapat sebuah kayu yang diperkirakan sebagai bagian kapal Cheng Ho yang pecah. Kayu ini kemudian dibuang oleh masyarakat namun selalu kembali, kemudian kayu ini dianggap sebagai Kayu Aji atau kayu bertuah. 

Selain bagian kapal Ceng Hoo, juga terdapat Jangkar dan miniatur kapal yang disebut Chong Kong atau Kapal Sapu Jagat. Benda benda ini dikeramatkan dan dipuja karena diyakini memiliki tuah. 

Zaman dahulu banyak orang yang mengambil bagian kayu ini untuk dijadikan ajimat.Selain altar untuk Kong Co Sam Poo Kong di Klenteng ini terdapat altar untuk Dewi Laut, Dewa Bumi, Buddha Sakyamuni, Dewa Macan dan Mbah Ratu. 

--page

Menurut juru kunci Klenteng, Mbah Ratu adalah penduduk lokal yang berjumpa dengan Laksamana Ceng Hoo walau di informasi lain di Google, nama Mbah Ratu adalah julukan lain dari Ceng Ho. Kelenteng Mbah Ratu menjadi satu-satunya petilasan dari ekspedisi besar Laksamana Cheng Ho di Surabaya. 

Seperti di Thailand, Malaysia, dan di mana pun, Cheng Ho selalu dianggap sebagai dewa laut yang selalu disembahyangi. Umat Islam Tionghoa di Surabaya menghormati Cheng Ho dengan membangun masjid. (TESTI PRISCILLA/B-11)